Jam mulai menunjukan jam 4 sore, segera Andin bergegas mengambil kunci motornya, berangkat menuju kafe tempat dia akan bertemu rekan kerjanya. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di tempat itu. Kali ini dia tak boleh terlambat karena ini adalah kesempatan emas baginya untuk mendapat investor besar sehingga ia tak akan dipecat dari perusahaan tempat dia bekerja karena berhasil memberi pemasukan yang besar bagi perusahaan.
Sampai di kafe itu ia mencari-cari di mana mitra kerjanya duduk. Namun tak dilihatnya orang yang ingin ia temui. Andin berpikir bahwa mungkin orang yang ia tunggu datang terlambat. Ia pun memesan Cofee Mix kepada pelayan kafe yang nampak tampan di matanya.
Sambil menunggu orang itu datang, Andin mengambil laptop yang ada di tasnya, kemudian ia mulai mengutak-atik laptop itu. Tiba-tiba suara HP-nya berbunyi. HP 3G yang baru ia beli tiga minggu yang lalu.
“Hallo.....ini siapa ya?” Sapa Andin
“Maaf, apa benar ini saudari Andin”.
“Ya, benar...ada apa ya?”
“Hari ini Pak Doni tidak bisa datang menemui Anda dan saya diberi tugas untuk mewakilinya menemui Anda. Apa Anda masih di sana?”
“Ya, saya masih di kafe Kaserina”.
* * *
Sudah hampir satu jam dia duduk di kursi itu sambil mengutak-atik laptop. Pikirannya resah karena kliennya tak kunjung datang. Dia tak ingin pertemuan kali ini gagal. Tiba-tiba saja seorang lelaki berumur sekitar 22 tahun menggunakan kemeja berwarna biru menghampirinya. Kehadiran lelaki itu membuyarkan konsentrasinya mengutak-atik laptop yang sedari tadi dia mainkan.
“Maaf, apa benar ini saudari Andin?” Sapa lelaki itu.
Andin mengangguk, kaget tak percaya melihat orang yang berdiri di depannya. Jantungnya langsung berdegup kencang, nafasnya seakan terhenti. Tak percaya, orang yang telah menghilang dua tahun lalu, saat ia tinggal di kota Surabaya, kini hadir di depan matanya. Orang itu adalah pria yang telah menghancurkan hatinya karena cinta yang pergi itu.
“Maaf, boleh saya duduk disini” Ucap lelaki itu.
“Oh ya .... silahkan” Jawab Andin gugup.
“Mari kita mulai saja pembicaraan kali ini”
“Ar.... kamu Arya Andung Setya kan..?” Tanya Andin
“Maaf, siapa itu Arya..saya Rino, saya bukan Arya” Jawab lelaki itu beraut heran.
“Apa Anda mengenali saya?” Tanya Andin lagi
“Maaf saya rasa saya bertemu Anda baru kali ini” Ucap lelaki yang bernama Rino itu.
Dalam hati Andin bertanya-tanya. Bagaimana mungkin lelaki yang dulu pernah menjalin asmara dengannya dua tahun, kini tidak mengenalinya sama sekali. Ini kenyataan atau sebuah kesengajaan? Arya tidak mengenali Andin. Ia pandangi lelaki yang ada dihadapannya itu. Masih tampan pula ia setelah dua tahun lamanya tak pernah bertemu. Terlintas lagi kenangan-kenangan indah bersama Arya. Hingga akhirnya Rino membuyarkan lamunan Andin.
“Maaf, bisa kita mulai sekarang” Ucap Rino
“Ba...ik, baik” Jawab Andin.
* * *
Pertemuan dengan rekan bisnis tak disangka adalah sebuah pertemuan yang mengejutkan bagi Andin. Berbagai pertanyaan terlintas di benaknya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Arya? Direguknya kaleng soft drink yang ada di tangannya. Sambil mengingat kisah saat ia bersama Arya, lantas ia mengambil HP yang ada di meja kerjanya. Dicarinya nama Rio di phone book teleponnya. Andin mencoba menghubungi Rio yang notabene teman karib Arya sejak kecil. Andin hanya bisa berharap nomor itu masih bisa ia hubungi. Semenjak Arya menghilang ia tak pernah berhubungan dengan Rio. Terakhir dia ingat menghubungi Rio untuk menanyakan keberadaan Arya. Namun Rio tak tahu keberadaan Arya.
Ternyata harapan Andin terkabul. Ia berhasil menghubungi Rio. Rio pun mengangkat telepon itu.
“Ini siapa ya?” Tanya Rio.
“Ini Andin, teman lamamu. Aku sekarang tinggal di Jakarta”.
“Andin.....kemana saja kamu selama ini. Kamu ganti nomor ya”.
Tanpa basa-basi Andin mulai menceritakan kejadian yang ia alami hari ini. Ia bertanya kepada Rio apa sebenarnya yang terjadi dengan Arya.
“Itu dia yang sejak dulu ingin aku ceritakan sama kamu. Tapi aku kehilangan kontak denganmu” Papar Rio.
“Apa yang terjadi?”
“Aku bertemu Arya enam bulan sesudah ia menghilang. Ia pun tak mengenaliku”.
“Lalu...”
“Kata ibunya dia mengalami kecelakaan saat pergi ke Jakarta, kecelakaan yang fatal”.
Andin terdiam mendengar penjelasan Rio. Lebih-lebih mendengar ucapan Rio yang terakhir. Perkataan yang memberi jawaban atas semua yang terjadi. Menggoreskan kembali luka yang hampir sembuh.
“Dia...terkena amnesia”.
1 comment:
seneng bnget ret aku baca cerpen ini
kayaknya pernah di muat ya???
Post a Comment