Seperti biasanya sepulang kerja aku harus jalan kaki menyusuri jalan raya yang tak pernah berubah setiap harinya. Kendaraan masih saja berlalu lalang memadati jalan walaupun masjid sudah mengumandangkan adzan magrib. Terkadang aku merasa takut menyebrangi jalanan yang ramai itu. Untungnya keselamatan selalu berpihak padaku. Dan aku mensyukuri semua itu. Mengingat sering terjadi kecelakaan di kawasan ini. Aku salah satu yang beruntung masih bisa bernafas sampai saat ini. Tiga hari lalu di depan toko jam dekat pertigaan terjadi kecelakaan antara motor dan tukang becak yang menyebabkan mereka pingsan. Banyak orang mengerumuni hendak menonton peristiwa itu. Sayangnya satu diantara mereka tak ada yang sudi menolong orang yang tertimpa musibah itu. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit setelah ada seorang rekan bapak tukang becak yang berinisiatif memanggil pihak kepolisian terdekat. Jangan ditanyakan kenapa aku tak mencoba menolong orang itu. Saat itu aku baru saja turun dari bis antar kota. Posisiku agak jauh dari lokasi kejadian. Aku pun tahu sedang terjadi kecelakaan karena diberitahu bapak tua yang biasa mangkal di dekat tempat kerjaku.
Tak sabar rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur kecilku yang tak empuk layaknya kasur di rumah. Mengguyuri tubuhku yang berbau debu dengan air yang harus kubayar seratus ribu per bulannya. Perutku pun sudah tak bisa diajak berkompromi. Sedari tadi subuh aku belum makan sesuap nasi ataupun minum segelas air. Sampai detik ini aku membasahi kerongkonganku dengan setetes air. Padahal waktu berbuka sudah tiba. Tak apalah aku menahannya sekejap sampai nanti tiba di kosanku yang letaknya sebelah warung gado-gado. Sedikit kecewa mengingat aku harus memasak dulu apa yang akan aku makan nanti. Aku tak suka jajan di warung. Bagiku masakan sendiri lebih nikmat dibanding masakan orang lain. Beginilah nasib pria lajang usia tiga puluh lima tahun. Sampai saat ini aku belum menemukan pasangan yang bersedia menjadi pendampingku. Aku tak berkecil hati karena Tuhan belum memberiku jodoh. Toh aku masih punya keluarga yang peduli padaku. Setidaknya ketika aku pulang menjenguk mereka.
Aku sengaja mampir ke warung sembako milik mang Udin. Persediaan berasku sudah habis. Aku pun butuh telur untuk asupan protein. Tak lupa juga minyak goreng, garam, bawang putih. Semuanya habis di waktu yang bersamaan. Sedangkan gajian baru kudapat tiga hari lagi. Untungnya aku punya tabungan yang bisa kupakai sewaktu-waktu saat keadaan mendesak. Warung mang Udin tidak terlalu jauh dari kosku. Aku berjalan sambil mengamati keadaan sekitar yang lebih ramai dari biasanya. Aku yakin acara ulang tahun salah satu organisasi yang membuat kota ini mendadak ramai layaknya kota Jakarta. Kemacetan dimana-mana. Perekonomian kota ini naik drastis karena para pelancong menghabiskan uang berjuta-juta untuk belanja. Seperti biasanya aku mendapati pengemis tua duduk di emper toko yang sudah tutup setiap jam lima sore. Pengemis itu duduk ditemani kantung yang menurutku berisi sampah plastik dan kardus. Selalu kulihat ada sebotol air mineral disampingnya. Pengemis itu selalu menggunakan celana warna hitam dan kemeja kotak-kotak yang tampak lusuh. Aku tak tahu apakah dia pernah mencuci baju yang dikenakannya. Namun aku tak pernah mencium aroma aneh ketika melintas dihadapannya. Lelaki tua renta itu duduk mengamati aku. Rambutnya berwarna putih mengisyaratkan bahwa ia berusia enam puluhan. Dapat terlihat juga dari fisik pengemis itu. Aku yakin banyak masalah di hidupnya.
Wajah lelaki itu seolah tak asing lagi. Aku merasa sering melihatnya ketika aku masih kecil. Namun aku lupa siapa orang itu. Aku merasa iba ketika mengamati gerak-gerik lelaki itu. Duduk sendirian tak ada seorangpun yang menemani. Kemana anak istri pengemis itu. Mungkin saja keluarganya tinggal di desa. Atau pengemis itu memang tak punya keluarga. Tak seperti biasanya aku merasa seperti itu. Ketika menghadapi seorang pengemis. Jujur aku orang yang tak percaya pada kelakuan pengemis yang suka meminta-minta dimanapun dengan tipuan apapun. Tak banyak dari mereka memperlihatkan cacat fisik. Padahal fisiknya utuh sempurna. Sering juga kujumpai pengemis yang memiliki harta cukup. Seolah pengemis adalah profesi tetap mereka. Pagi hingga sore meminta-minta. Malam mereka masuk di rumah megah mengenakan pakaian mewah menikmati uang yang mereka dapat dari manusia yang iba padanya. Aku kasihan karena mereka sudah menipu banyak orang. Aku sangat mengutuk mereka yang menyuruh anaknya berjalan menyusuri kota untuk mengulurkan tangan pada setiap orang. Itulah potret orang tua yang malas bekerja.
Hampir setiap hari aku melihat pengemis itu. Dan aku belum pernah memberikan sebagian rejekiku untuknya. Aku tak tahu apakah pikiran buruku tentang pengemis juga berlaku untuk lelaki itu. Seorang teman pernah mengajukan pendapatnya padaku. Tak ada pengemis palsu yang tinggal di emper toko, sudut jalan rela kedinginan terkena angin malam. Pengemis palsu pasti tidur nyenyak di ranjang empuk bersama kipas angin disampingnya. Aku rasa pendapat itu benar adanya. Mana mungkin ada pengemis kaya yang mau menghabiskan malam di pinggiran toko beralaskan koran. Mereka pasti ingin menikmati apa yang telah didapat setelah menipu banyak orang. Kali ini aku tergugah untuk memberi sebungkus nasi pada lelaki itu. Aku relakan lima ribu rupiah untuk membeli nasi rames dekat lelaki itu singgah.
Lelaki itu tertegun menatapku kala kusodorkan sebungkus nasi untuknya. Dari sorot matanya tampak ada sesuatu yang ingin dia katakan. Mata itu seolah berkaca-kaca. Mungkin dia terharu karena masih ada yang mau memberi makan
“Terima kasih nak. Apa kamu masih ingat bapak?”
Lelaki itu berbicara sangat lirih hingga aku nyaris tak mendengar apa yang dikatakan. Tiba-tiba seorang kawan menyapaku dari jauh. Aku dengar dia berteriak memanggil namaku. Langkahnya tergesa menghampiriku. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan. Dia menarik tanganku tanpa berkata apapun. Aku mencoba menanyakan apa yang terjadi. Dia tetap saja diam tak berkata apa-apa.
“Lihat ini...” Seorang kawan menunjukkan beberapa foto padaku sesampainya kami di kos.
Aku amati foto yang ada di tanganku. Beberapa diantaranya adalah wajah yang tak asing bagiku. Aku sering menjumpainya di pinggir jalan. Beberapa juga pernah mengataiku. Beberapa juga pernah menyumpahku akan menjadi orang melarat di negeri ini. Cukup bodoh jika mereka menyumpahiku seperti itu. Bagiku sumpah itu akan menimpa mereka. Foto-foto itu memperlihatkan dua sisi. Satu sisi mereka tampak kusut dengan penampilan sebagai pengemis. Disisi lain mereka tampak mewah mengenakan busana yang kutaksir harganya cukup mahal. Aku bandingkan foto sebelah kanan dan foto sebelah kiri. Foto di tangan kananku nampak lelaki menjinjing karung plastik dengan pakaian putih compang-camping. Tangan kiri memperlihatkan sosok berpakaian batik, bercelana hitam, bersepatu hitam pula. Berdiri di depan mobil sedan berwarna hitam. Tangannya menyulut rokok sambil tersenyum pada kamera. Dua foto berbeda penampilan dengan wajah sama. Sudah bisa dipastikan apa profesi mereka sesungguhnya.
Tubuhku letih, tak ada komentar apa-apa dari mulutku untuk seorang kawan yang membuatku keringatku setengah mengucur. Aku tahu dia sedang ada hobi baru. Gemar memotret orang-orang yang dianggap layak dijadikan bahan diskusi di kampus. Sebelumnya dia tak percaya bahwa sebagian pengemis negeri ini adalah penipu. Sering pula kukatakan padanya jika kita memberi sepeser uang pada pengemis, berarti kita sudah membantu memperkaya harta mereka. Namun dia selalu bersikukuh pengemis itu adalah orang orang miskin. Butuh tempat tinggal, butuh makan.
Tak jarang dia mengataiku seorang yang tidak berperikemanusiaan. Aku tak bergeming jika dia berkata seperti itu. Bukannya aku tak peduli sesama. Namun aku tak ingin menempatkan uangku untuk orang yang salah.
“Biarlah jika benar kita ditipu mereka. Yang penting niat kita tulus memberi”
Aku tak bisa membalas apa-apa jika sudah pada titik itu. Dia selalu mengagungkan rasa ikhlas. Tak bisa kupungkiri bahwa itu benar adanya. Aku memilih diam. Gengsi bila harus kukatai setuju dengan pernyataannya. Kini seorang kawan yang sudah sepuluh tahun menjadi sahabatku. Sama-sama melajang di kota orang. Dia menghapus pernyatannya yang sering dia elukan. Bukti yang didapat sudah cukup mendukung argumenku tentang mereka. Dia percaya selama ini sudah ditipu banyak pengemis.
Dari tempat tidur aku amati wajahnya terus melihat foto yang tadi dia tunjukan padaku. Perutku mulai berdendang ria. Segera aku nyalakan kompor memasak nasi. Namun perut ini sudah tidak kuat jika harus menunggu nasi matang ditambah harus masak lauk. Kuambil sebungkus mi instan di laci kamar. Kraih pula dua butir telur, dua buah sosis. Tak sabar rasanya memanjakan perut dengan semangkok mie panas dan pedas. Akan kutambahkan sepuluh cabe rawit dalam panci ini. Walau aku tahu kawanku akan kewalahan merasakan sensasi pedasnya. Lidahnya cenderung ikut ibunya yang berasal dari jawa. Berbeda dengan aku yang cenderung berlidah padang meskipun keturunan jawa. Sejak kecil aku dibesarkan di padang. Jadi sudah terbiasa mencicipi masakan super pedas.
Hujan mulai membasahi tanaman anggrek depan jendela kamar. Bau tanah tercium di hidungku bercampur dengan aroma rebusan mie instan. Damai rasanya jika bisa merasakan suasana seperti ini. Hujan selalu membuatku rindu kampung halaman. Rindu ayah, ibu dan adik kecilku. Entah kapan aku bisa menemui mereka. Aku belum sanggup menemui mereka jika belum ada wanita pujaan hati. Ibu pernah bila tak ingin bertemu denganku jika aku tak membawa seorang wanita. Permintaan itu sulit rasanya untuk kuwujudkan. Sampai saat ini aku masih saja sendiri. Bukannya aku tak mau berusaha. Berbagai usaha sudah kulakukan. Lagi-lagi hatiku tetap pada satu nama. Aisha, gadis pulau seberang yang dulu pernah menjadi bidadari hidupku.
Gadis itu ternyata dulu tinggal sebelahan denganku. Hanya saja aku tak paham siapa dia karena waktu itu kami masih sama-sama kecil. Kami bertemu di kota ini tak sengaja di acara perkawinan saudara. Kedatangannya di kota ini tak lain untuk mengenyam bangku kuliah. Sejak saat itu aku terpesona padanya. Sayangnya dia memutuskan hubungan yang sudah berjalan selama tiga tahun. Katanya dia tak bisa melawan kehendak orang tua. Bapaknya menyuruh dia menikah dengan pengusaha restoran di kotanya. Hatiku terpecah belah seketika mendengar pernyataannya. Susah payah aku mempertahankan dirinya. Berusaha meyakinkan ibu bahwa dia wanita yang tepat untukku. Karena ibu tak pernah setuju jika aku menikah dengan wanita keturunan jawa. Kepercayaan sudah kudapat dari ibu. Namun semua itu dihancurkan begitu saja oleh Aisha. Bukan Aisha, tepatnya ayahnya. Aku tahu gadis itu masih mencintaiku. Dirinya tak kuasa melawan kehendak orang tua yang hanya memikirkan harta demi kepentingan sendiri.
Ah, aku tak ingin melamun membayangkan Aisha. Tiba-tiba aku teringat perkataan pengemis tua tadi. Apa mungkin aku mengenal lelaki itu. Aku merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya. Atau hanya perasaanku saja karena iba melihatnya.
“Jon, coba kamu lihat ini”
Kawanku memanggilku sambil menyodorkan sebuah foto. Aku kenal siapa orang dalam foto itu. Dia adalah lelaki yang kutemui tadi sore. Lelaki yang membuatku rela memberi sebungkus nasi. Lelaki yang bertanya seolah mengenalku itu.
“Sepertinya aku pernah melihat wajah ini Jon”
“Siapa?”
“Aku lupa. Aku sepertinya pernah bercakap dengan pria ini”
“Pasti di pinggir toko. Kamu kan memang suka mengobrol dengan pengemis.”
“Ah tidak. Dia menggunakan pakaian rapi. Tak menunjukan bahwa dia seorang pengemis”
“Mungkin dia salah satu pengemis yang sudah menipumu.”
“Bisa saja.”
Rupanya kawanku merasakan hal sama sepertiku. Sayangnya kami sama-sama tak ingat siapa lelaki itu. Aku berusaha mengingatnya. Hasilnya malah membuat kepalaku pusing. Entahlah siapa dia. Yang jelas aku harus makan dulu. Kutuang mie ke dalam mangkok. Tiba-tiba suara kawanku mengagetkan dan membuat kuah mie sedikit tumpah.
“Jon, aku ingat lelaki ini ditemani seorang gadis berambut panjang, berwajah manis, walau tak terlalu tinggi.”
“Dimana kamu bertemu pengemis itu.”
“Di tempat kerjamu. Dia pernah menanyakan dirimu.”
“Hah... Kamu pasti salah orang. Aku tak kenal siapa dia.”
“Jon, foto siapa itu.”
Mendadak dia menunjuk sebuah foto yang terpampang di meja kerjaku. Kemarin aku sengaja memasang foto Aisha. Aku ingin dia menemani hari-hariku yang melelahkan. Meskipun hanya gambarnya yang tersenyum padaku.
“Jon, gadis itulah yang menemani lelaki dalam foto ini.”
“Apa?”
Aku nyaris tersedak mendengar pernyataannya. Ingatanku berputar pada kejadian tujuh tahun lalu. Aku pernah didatangi seorang gadis bersama bapaknya di lokasi kerjaku. Ayah gadis itu memaksaku untuk meninggalkan anak gadisnya. Dia juga mencelaku. Aku tak pantas menjadi suami anak gadisnya. Karena aku hanyalah seorang buruh pabrik. Ada lelaki yang lebih pantas mendamping gadis itu. Aku dipermalukan lelaki itu di depan umum. Aku hanya bisa menangis. Merengek agar lelaki itu menyudahi pertengkarannya padaku. Kini aku sadar siapa gerangan pengemis yang ada didalam foto itu. Lelaki yang kutemui tadi sore.
Aku bangkit meninggalkan semangkok mie yang masih separuh. Kuambil jaket yang tergantung di balik pintu. Aku segera menuju tempat dimana lelaki tadi singgah. Bagaimanapun dia pernah menjadi bagian kisahku. Dia pernah menghancurkan impianku. Namun aku tak merasa dendam sedikitpun padanya. Ada apa gerangan hingga lelaki itu terdampar di kota ini. Kemana Aisha. Mengapa dia tak tinggal di rumah megahnya. Atau tinggal bersama Aisha. Sesampainya di lokasi peristirahatan lelaki tua itu. Aku menghampirinya mengamati wajahnya. Tubuhnya terbaring tanpa selimut. Dia pasti teramat kedinginan. Aku pegang tangan lelaki itu. Astaga aku tak merasakan getaran dari tubuhnya. Aku lekatkan jari telunjuk di hidungnya. Tak ada nafas yang memburu. Aku dekatkan telinga ke dadanya. Tiada suara degup apapun. Tubuhnya telah membiru. Tak bergerak sedikitpun.