Tuesday, May 17, 2011

Pengemis Tua

Seperti biasanya sepulang kerja aku harus jalan kaki menyusuri jalan raya yang tak pernah berubah setiap harinya. Kendaraan masih saja berlalu lalang memadati jalan walaupun masjid sudah mengumandangkan adzan magrib. Terkadang aku merasa takut menyebrangi jalanan yang ramai itu. Untungnya keselamatan selalu berpihak padaku. Dan aku mensyukuri semua itu. Mengingat sering terjadi kecelakaan di kawasan ini. Aku salah satu yang beruntung masih bisa bernafas sampai saat ini. Tiga hari lalu di depan toko jam dekat pertigaan terjadi kecelakaan antara motor dan tukang becak yang menyebabkan mereka pingsan. Banyak orang mengerumuni hendak menonton peristiwa itu. Sayangnya satu diantara mereka tak ada yang sudi menolong orang yang tertimpa musibah itu. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit setelah ada seorang rekan bapak tukang becak yang berinisiatif memanggil pihak kepolisian terdekat. Jangan ditanyakan kenapa aku tak mencoba menolong orang itu. Saat itu aku baru saja turun dari bis antar kota. Posisiku agak jauh dari lokasi kejadian. Aku pun tahu sedang terjadi kecelakaan karena diberitahu bapak tua yang biasa mangkal di dekat tempat kerjaku.

Tak sabar rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur kecilku yang tak empuk layaknya kasur di rumah. Mengguyuri tubuhku yang berbau debu dengan air yang harus kubayar seratus ribu per bulannya. Perutku pun sudah tak bisa diajak berkompromi. Sedari tadi subuh aku belum makan sesuap nasi ataupun minum segelas air. Sampai detik ini aku membasahi kerongkonganku dengan setetes air. Padahal waktu berbuka sudah tiba. Tak apalah aku menahannya sekejap sampai nanti tiba di kosanku yang letaknya sebelah warung gado-gado. Sedikit kecewa mengingat aku harus memasak dulu apa yang akan aku makan nanti. Aku tak suka jajan di warung. Bagiku masakan sendiri lebih nikmat dibanding masakan orang lain. Beginilah nasib pria lajang usia tiga puluh lima tahun. Sampai saat ini aku belum menemukan pasangan yang bersedia menjadi pendampingku. Aku tak berkecil hati karena Tuhan belum memberiku jodoh. Toh aku masih punya keluarga yang peduli padaku. Setidaknya ketika aku pulang menjenguk mereka.

Aku sengaja mampir ke warung sembako milik mang Udin. Persediaan berasku sudah habis. Aku pun butuh telur untuk asupan protein. Tak lupa juga minyak goreng, garam, bawang putih. Semuanya habis di waktu yang bersamaan. Sedangkan gajian baru kudapat tiga hari lagi. Untungnya aku punya tabungan yang bisa kupakai sewaktu-waktu saat keadaan mendesak. Warung mang Udin tidak terlalu jauh dari kosku. Aku berjalan sambil mengamati keadaan sekitar yang lebih ramai dari biasanya. Aku yakin acara ulang tahun salah satu organisasi yang membuat kota ini mendadak ramai layaknya kota Jakarta. Kemacetan dimana-mana. Perekonomian kota ini naik drastis karena para pelancong menghabiskan uang berjuta-juta untuk belanja. Seperti biasanya aku mendapati pengemis tua duduk di emper toko yang sudah tutup setiap jam lima sore. Pengemis itu duduk ditemani kantung yang menurutku berisi sampah plastik dan kardus. Selalu kulihat ada sebotol air mineral disampingnya. Pengemis itu selalu menggunakan celana warna hitam dan kemeja kotak-kotak yang tampak lusuh. Aku tak tahu apakah dia pernah mencuci baju yang dikenakannya. Namun aku tak pernah mencium aroma aneh ketika melintas dihadapannya. Lelaki tua renta itu duduk mengamati aku. Rambutnya berwarna putih mengisyaratkan bahwa ia berusia enam puluhan. Dapat terlihat juga dari fisik pengemis itu. Aku yakin banyak masalah di hidupnya.

Wajah lelaki itu seolah tak asing lagi. Aku merasa sering melihatnya ketika aku masih kecil. Namun aku lupa siapa orang itu. Aku merasa iba ketika mengamati gerak-gerik lelaki itu. Duduk sendirian tak ada seorangpun yang menemani. Kemana anak istri pengemis itu. Mungkin saja keluarganya tinggal di desa. Atau pengemis itu memang tak punya keluarga. Tak seperti biasanya aku merasa seperti itu. Ketika menghadapi seorang pengemis. Jujur aku orang yang tak percaya pada kelakuan pengemis yang suka meminta-minta dimanapun dengan tipuan apapun. Tak banyak dari mereka memperlihatkan cacat fisik. Padahal fisiknya utuh sempurna. Sering juga kujumpai pengemis yang memiliki harta cukup. Seolah pengemis adalah profesi tetap mereka. Pagi hingga sore meminta-minta. Malam mereka masuk di rumah megah mengenakan pakaian mewah menikmati uang yang mereka dapat dari manusia yang iba padanya. Aku kasihan karena mereka sudah menipu banyak orang. Aku sangat mengutuk mereka yang menyuruh anaknya berjalan menyusuri kota untuk mengulurkan tangan pada setiap orang. Itulah potret orang tua yang malas bekerja.

Hampir setiap hari aku melihat pengemis itu. Dan aku belum pernah memberikan sebagian rejekiku untuknya. Aku tak tahu apakah pikiran buruku tentang pengemis juga berlaku untuk lelaki itu. Seorang teman pernah mengajukan pendapatnya padaku. Tak ada pengemis palsu yang tinggal di emper toko, sudut jalan rela kedinginan terkena angin malam. Pengemis palsu pasti tidur nyenyak di ranjang empuk bersama kipas angin disampingnya. Aku rasa pendapat itu benar adanya. Mana mungkin ada pengemis kaya yang mau menghabiskan malam di pinggiran toko beralaskan koran. Mereka pasti ingin menikmati apa yang telah didapat setelah menipu banyak orang. Kali ini aku tergugah untuk memberi sebungkus nasi pada lelaki itu. Aku relakan lima ribu rupiah untuk membeli nasi rames dekat lelaki itu singgah.

Lelaki itu tertegun menatapku kala kusodorkan sebungkus nasi untuknya. Dari sorot matanya tampak ada sesuatu yang ingin dia katakan. Mata itu seolah berkaca-kaca. Mungkin dia terharu karena masih ada yang mau memberi makan

“Terima kasih nak. Apa kamu masih ingat bapak?”

Lelaki itu berbicara sangat lirih hingga aku nyaris tak mendengar apa yang dikatakan. Tiba-tiba seorang kawan menyapaku dari jauh. Aku dengar dia berteriak memanggil namaku. Langkahnya tergesa menghampiriku. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia katakan. Dia menarik tanganku tanpa berkata apapun. Aku mencoba menanyakan apa yang terjadi. Dia tetap saja diam tak berkata apa-apa.

“Lihat ini...” Seorang kawan menunjukkan beberapa foto padaku sesampainya kami di kos.

Aku amati foto yang ada di tanganku. Beberapa diantaranya adalah wajah yang tak asing bagiku. Aku sering menjumpainya di pinggir jalan. Beberapa juga pernah mengataiku. Beberapa juga pernah menyumpahku akan menjadi orang melarat di negeri ini. Cukup bodoh jika mereka menyumpahiku seperti itu. Bagiku sumpah itu akan menimpa mereka. Foto-foto itu memperlihatkan dua sisi. Satu sisi mereka tampak kusut dengan penampilan sebagai pengemis. Disisi lain mereka tampak mewah mengenakan busana yang kutaksir harganya cukup mahal. Aku bandingkan foto sebelah kanan dan foto sebelah kiri. Foto di tangan kananku nampak lelaki menjinjing karung plastik dengan pakaian putih compang-camping. Tangan kiri memperlihatkan sosok berpakaian batik, bercelana hitam, bersepatu hitam pula. Berdiri di depan mobil sedan berwarna hitam. Tangannya menyulut rokok sambil tersenyum pada kamera. Dua foto berbeda penampilan dengan wajah sama. Sudah bisa dipastikan apa profesi mereka sesungguhnya.

Tubuhku letih, tak ada komentar apa-apa dari mulutku untuk seorang kawan yang membuatku keringatku setengah mengucur. Aku tahu dia sedang ada hobi baru. Gemar memotret orang-orang yang dianggap layak dijadikan bahan diskusi di kampus. Sebelumnya dia tak percaya bahwa sebagian pengemis negeri ini adalah penipu. Sering pula kukatakan padanya jika kita memberi sepeser uang pada pengemis, berarti kita sudah membantu memperkaya harta mereka. Namun dia selalu bersikukuh pengemis itu adalah orang orang miskin. Butuh tempat tinggal, butuh makan.

Tak jarang dia mengataiku seorang yang tidak berperikemanusiaan. Aku tak bergeming jika dia berkata seperti itu. Bukannya aku tak peduli sesama. Namun aku tak ingin menempatkan uangku untuk orang yang salah.

“Biarlah jika benar kita ditipu mereka. Yang penting niat kita tulus memberi”

Aku tak bisa membalas apa-apa jika sudah pada titik itu. Dia selalu mengagungkan rasa ikhlas. Tak bisa kupungkiri bahwa itu benar adanya. Aku memilih diam. Gengsi bila harus kukatai setuju dengan pernyataannya. Kini seorang kawan yang sudah sepuluh tahun menjadi sahabatku. Sama-sama melajang di kota orang. Dia menghapus pernyatannya yang sering dia elukan. Bukti yang didapat sudah cukup mendukung argumenku tentang mereka. Dia percaya selama ini sudah ditipu banyak pengemis.

Dari tempat tidur aku amati wajahnya terus melihat foto yang tadi dia tunjukan padaku. Perutku mulai berdendang ria. Segera aku nyalakan kompor memasak nasi. Namun perut ini sudah tidak kuat jika harus menunggu nasi matang ditambah harus masak lauk. Kuambil sebungkus mi instan di laci kamar. Kraih pula dua butir telur, dua buah sosis. Tak sabar rasanya memanjakan perut dengan semangkok mie panas dan pedas. Akan kutambahkan sepuluh cabe rawit dalam panci ini. Walau aku tahu kawanku akan kewalahan merasakan sensasi pedasnya. Lidahnya cenderung ikut ibunya yang berasal dari jawa. Berbeda dengan aku yang cenderung berlidah padang meskipun keturunan jawa. Sejak kecil aku dibesarkan di padang. Jadi sudah terbiasa mencicipi masakan super pedas.

Hujan mulai membasahi tanaman anggrek depan jendela kamar. Bau tanah tercium di hidungku bercampur dengan aroma rebusan mie instan. Damai rasanya jika bisa merasakan suasana seperti ini. Hujan selalu membuatku rindu kampung halaman. Rindu ayah, ibu dan adik kecilku. Entah kapan aku bisa menemui mereka. Aku belum sanggup menemui mereka jika belum ada wanita pujaan hati. Ibu pernah bila tak ingin bertemu denganku jika aku tak membawa seorang wanita. Permintaan itu sulit rasanya untuk kuwujudkan. Sampai saat ini aku masih saja sendiri. Bukannya aku tak mau berusaha. Berbagai usaha sudah kulakukan. Lagi-lagi hatiku tetap pada satu nama. Aisha, gadis pulau seberang yang dulu pernah menjadi bidadari hidupku.

Gadis itu ternyata dulu tinggal sebelahan denganku. Hanya saja aku tak paham siapa dia karena waktu itu kami masih sama-sama kecil. Kami bertemu di kota ini tak sengaja di acara perkawinan saudara. Kedatangannya di kota ini tak lain untuk mengenyam bangku kuliah. Sejak saat itu aku terpesona padanya. Sayangnya dia memutuskan hubungan yang sudah berjalan selama tiga tahun. Katanya dia tak bisa melawan kehendak orang tua. Bapaknya menyuruh dia menikah dengan pengusaha restoran di kotanya. Hatiku terpecah belah seketika mendengar pernyataannya. Susah payah aku mempertahankan dirinya. Berusaha meyakinkan ibu bahwa dia wanita yang tepat untukku. Karena ibu tak pernah setuju jika aku menikah dengan wanita keturunan jawa. Kepercayaan sudah kudapat dari ibu. Namun semua itu dihancurkan begitu saja oleh Aisha. Bukan Aisha, tepatnya ayahnya. Aku tahu gadis itu masih mencintaiku. Dirinya tak kuasa melawan kehendak orang tua yang hanya memikirkan harta demi kepentingan sendiri.

Ah, aku tak ingin melamun membayangkan Aisha. Tiba-tiba aku teringat perkataan pengemis tua tadi. Apa mungkin aku mengenal lelaki itu. Aku merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya. Atau hanya perasaanku saja karena iba melihatnya.

“Jon, coba kamu lihat ini”

Kawanku memanggilku sambil menyodorkan sebuah foto. Aku kenal siapa orang dalam foto itu. Dia adalah lelaki yang kutemui tadi sore. Lelaki yang membuatku rela memberi sebungkus nasi. Lelaki yang bertanya seolah mengenalku itu.

“Sepertinya aku pernah melihat wajah ini Jon”

“Siapa?”

“Aku lupa. Aku sepertinya pernah bercakap dengan pria ini”

“Pasti di pinggir toko. Kamu kan memang suka mengobrol dengan pengemis.”

“Ah tidak. Dia menggunakan pakaian rapi. Tak menunjukan bahwa dia seorang pengemis”

“Mungkin dia salah satu pengemis yang sudah menipumu.”

“Bisa saja.”

Rupanya kawanku merasakan hal sama sepertiku. Sayangnya kami sama-sama tak ingat siapa lelaki itu. Aku berusaha mengingatnya. Hasilnya malah membuat kepalaku pusing. Entahlah siapa dia. Yang jelas aku harus makan dulu. Kutuang mie ke dalam mangkok. Tiba-tiba suara kawanku mengagetkan dan membuat kuah mie sedikit tumpah.

“Jon, aku ingat lelaki ini ditemani seorang gadis berambut panjang, berwajah manis, walau tak terlalu tinggi.”

“Dimana kamu bertemu pengemis itu.”

“Di tempat kerjamu. Dia pernah menanyakan dirimu.”

“Hah... Kamu pasti salah orang. Aku tak kenal siapa dia.”

“Jon, foto siapa itu.”

Mendadak dia menunjuk sebuah foto yang terpampang di meja kerjaku. Kemarin aku sengaja memasang foto Aisha. Aku ingin dia menemani hari-hariku yang melelahkan. Meskipun hanya gambarnya yang tersenyum padaku.

“Jon, gadis itulah yang menemani lelaki dalam foto ini.”

“Apa?”

Aku nyaris tersedak mendengar pernyataannya. Ingatanku berputar pada kejadian tujuh tahun lalu. Aku pernah didatangi seorang gadis bersama bapaknya di lokasi kerjaku. Ayah gadis itu memaksaku untuk meninggalkan anak gadisnya. Dia juga mencelaku. Aku tak pantas menjadi suami anak gadisnya. Karena aku hanyalah seorang buruh pabrik. Ada lelaki yang lebih pantas mendamping gadis itu. Aku dipermalukan lelaki itu di depan umum. Aku hanya bisa menangis. Merengek agar lelaki itu menyudahi pertengkarannya padaku. Kini aku sadar siapa gerangan pengemis yang ada didalam foto itu. Lelaki yang kutemui tadi sore.

Aku bangkit meninggalkan semangkok mie yang masih separuh. Kuambil jaket yang tergantung di balik pintu. Aku segera menuju tempat dimana lelaki tadi singgah. Bagaimanapun dia pernah menjadi bagian kisahku. Dia pernah menghancurkan impianku. Namun aku tak merasa dendam sedikitpun padanya. Ada apa gerangan hingga lelaki itu terdampar di kota ini. Kemana Aisha. Mengapa dia tak tinggal di rumah megahnya. Atau tinggal bersama Aisha. Sesampainya di lokasi peristirahatan lelaki tua itu. Aku menghampirinya mengamati wajahnya. Tubuhnya terbaring tanpa selimut. Dia pasti teramat kedinginan. Aku pegang tangan lelaki itu. Astaga aku tak merasakan getaran dari tubuhnya. Aku lekatkan jari telunjuk di hidungnya. Tak ada nafas yang memburu. Aku dekatkan telinga ke dadanya. Tiada suara degup apapun. Tubuhnya telah membiru. Tak bergerak sedikitpun.

Sepasang Angsa Putih

Tak perlu kutanyakan lagi kapan kau akan pulang kembali ke kota ini. Keyakinanku yang dulu menyala-nyala padam sudah kerena kegundahan menghantuiku sepanjang hari. Aku tak tahu lagi apa penantianku sepanjang dua tahun ini membuahkan hasil yang melegakan nadi tubuhku. Cukup sudah aku menangis menantimu di depan telaga ini memandangi sepasang angsa putih. Memanggil namamu dalam batin yang terluka cukup parah. Aku hanya perempuan biasa yang butuh kepastian. Bukankah cinta itu membuat kita berbunga-bunga. Mengapa aku begitu tersiksa karena cintaku padamu. Kau begitu tega padaku, Mas Dani.

Telingaku cukup panas menghadapi pertanyaan yang setiap hari seolah mencelaku.

“Kapan kamu akan menikah Din? Sampai kapan kamu menunggu dani yang tak jelas kabarnya itu? Ibu malu kalau kamu jadi perawan tua.”

Perkataan itu selalu terngiang di kepalaku beberapa hari ini. Apakah aku harus menuruti kemauan bapak untuk menikah dengan pemuda pilihanya. Pria yang cukup kaya di desa ini. Satu-satunya alasan bapak menyuruhku menikah dengan pria itu agar hutangnya bisa lunas. Bapak tersangkut utang piutang pada pria yang memiliki ratusan hektar tanah dan beberapa toko di desa ini. Ah, aku tak mungkin menikah dengan lelaki yang tak kucintai. Aku masih mencintai mas dani. Hanya dia yang kuharap menjadi pendamping hidupku kelak.

Dua jam sudah aku duduk di tempat ini. Tempat dimana aku bisa menikmati tingkah sepasang angsa putih. Telaga ini sangat jelas mengingatkanku pada mas dani. Dulu kami sering bermesraan disini. Memandangi sepasang angsa putih yang elok rupanya. Andai aku bisa separti nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Aku ingin menumpahkan isi hatiku pada angsa itu. Mungkin mereka merasakan kegalauan yang aku alami. Terkadang mereka mendekati tepi danau, menatapku seolah ingin menghiburku. Sepasang angsa itu kemudian menari menunjukan keceriaanya padaku. Aku pun tersenyum kelihatnya. Aku juga iri padanya. Andai saja aku seperti angsa itu. Tak pernah terpisahkan sampai saat ini. Bebas menari di atas air yang menentramkan jiwa yang nelangsa. Bawa aku menari di atas danau itu wahai angsa putih.

***

Undangan pernikahan sudah tersebar dimana-mana. Dua hari lagi aku akan melangsungkan pernikahanku dengan pria kaya kampung ini. Rasanya aku ingin mati saat ini juga daripada harus menikah denganya. Disaat seperti ini aku sangat membenci mas dani. Mengapa kau pergi dan tak memberi kabar sedikitpun padaku. Kau bilang pergi ke negara orang demi masa depan kita. Tapi apa buktinya? Masa depanku menggantung karenamu. Bukankah kau punya keluarga disini. Mengapa kau tak memberi kabar pula pada mereka. Atau kau memang sengaja menyuruh mereka agar tidak memberitahu padaku tentang keberadaanmu. Begitu mudahnya kau melupakan semua yang kita rajut selama ini.

“Nduk, apa kau benar-benar sudah siap menghadapi pernikahanmu esok?” Tanya ibu sambil membelaiku.

“Dina siap bu.” Jawabku setengah terisak.

“Siap tak siap kau harus melakukanya. Ini demi kebahagiaanmu.”

“Demi kebahagiaanku? Bukankah ini demi kebahagiaan bapak? Untuk membebaskanya dari jutaan hutang pada pria itu.” Sahutku dengan nada meninggi.

“Jaga ucapanmu din. Semua ini kami lakukan bukan semata-mata untuk melunasi hutang keluarga ini. Semua ini lebih agar kamu bisa hidup enak. Tidak terkatung-katung menunggu lelaki yang tak jelas keberadaanya itu.”

Bibirku kelu, air mataku mengalir deras. Aku tak tahan dengan semua ini. Tanganku spontan mengambil pisau yang ada di dekat ibu. Kemudian mataku berkunang-kunang. Samar kulihat wajah ibu yang memanggil namaku. Aku melihat mas dani jelas dihadapanku.

***

Aku tak menyangka dapat berdua lagi bersama mas dani di depan telaga ini. Melihat sepasang angsa putih bercengkerama. Mas dani tampak begitu pucat mengenakan pakaian berwarna putih. Aku bahagia bisa kembali memandangi wajahnya yang membuat hatiku bergetar. Merasakan genggaman tanganya yang membuat aliran darahku begitu cepat mengalir di raga ini.

“Maafkan aku ya sudah meninggalkanmu begitu lama. Kita tak mungkin bersatu lagi din. Walau aku sangat mencintaimu.”

“Kenapa mas?”

“Aku dan kamu sudah berbeda dunia dunia. Kau masih pantas menikmati indahnya dunia bersama lelaki manapun. Berjanjilah padaku untuk tidak terus memikirkanku. Kuharap kau bahagia dengan lelaki itu. Menikahlah denganya.”

“Din...dina...kamu sudah sadar nak.” Sayup-sayup aku mendengar suara ibu didekatku.

“Aku dimana bu?” Tanyaku dengan suara begitu lemah.

“Kamu di rumah sakit din. Sudah dua hari koma. Untung saja kamu sudah sadar. Ibu sangat khawatir nak.”

“Mas dani.....”

“Tak usah sebut nama dia lagi din. Lelaki itulah yang membuatmu seperti ini.” Ucap ibu sinis padaku.

“Aku baru saja bertemu dia bu.”

“Ah, kamu hanya bermimpi. Dia sudah lenyap dari bumi ini.’

Benarkah tadi mas dani menemuiku. Aku merasakan ada sesuatu dalam genggaman tanganku. Kulihat liontin berbentuk sepasang angsa tersenyum padaku. Mungkinkah mas dani benar sudah berada di surga.

Dusta Yang Kusimpan

Satu tahun aku menyembunyikan semua ini dari Mas Pras. Aku merasa bersalah karena telah membohongi cinta Mas Pras. Andai kamu tahu apa yang terjadi selama ini. Aku tak yakin apa kamu masih menerimaku sebagai kekasihmu yang akan mendampingimu sampai mati. Aku hanya perempuan biasa yang punya perasaan dan ingin dikasihi secara nyata. Bukan hubungan seperti yang kita jalani selama ini Mas Pras.

Satu minggu lagi pernikahan kita. Aku memutuskan untuk menikah denganmu. Seseorang yang selama ini telah mengisi hatiku sehari-hari namun ragamu tak pernah ada disisiku setiap waktu. Menjalin hubungan Jogja- Jakarta membuatku menderita. Aku haus kasih sayang, belaian seorang pria. Belaian yang selalu kurindukan dari Mas Pras. Namun kau memberikan belaian itu hanya tiga bulan sekali. Jiwa kewanitaanku berontak. Kerindukan membuncah mencapai titik klimaks hingga tumpah ke kawah yang lain.

***

Undangan sudah tersebar, gaun pengantinpun sudah dipersiapkan. Entah mengapa hatiku masih belum siap menikah dengan Mas Pras. Aku tak tahu apa aku masih mencintai Didik yang masih menungguku sampai sekarang. Bahkan berharap pernikahanku tak akan pernah terjadi.

“Hubungan ini harus diakhiri.”

“Karena kamu akan menikah?”

“Pastinya.”

“Kau wanita murahan. Datang ke pelukanku saat kesepian. Kini ketika aku benar-benar mencintaimu kau campakan aku begitu saja.”

“Maafkan aku...”

“Semoga pernikahanmu hancur. Akulah orang pertama yang akan menuggu jandamu.”

Perkataan Didik di pertemuan terakhir kami membuatku mengerti bahwa aku sudah menyakiti dua pria. Bedanya Mas Pras tak pernah tahu bahwa aku telah menyakitinya. Apapun yang terjadi aku harus siap menerimanya. Bukankah aku yang memulai semua ini.

***

“Apa kamu masih menerimaku Mas Pras?”

“Aku tak mungkin menerimamu Sin. Kamu tega menduakan cintaku dengan pria itu. Mengapa kau baru mengatakanya sekarang ?”

“Maaf Mas Pras. Aku kesepian.....”

“Bukankah tiap hari kita komunikasi ?”

“Bagiku itu tak nyata. Adamu disini yang kubutuhkan. Bukan suaramu. Ataupun ketikan smsmu.”

“Kita bercerai saja, menikahlah dengan pria itu.”

“Aku mencintaimu Mas Pras...”

“ Permisi Non, bangun ada yang nyari.”

Suara Mbok Minah dari depan pintu membangunkanku dari tidur. Oh... ternyata aku baru saja mimpi. Untung saja Cuma mimpi. Aku tak ingin mimpi itu terjadi. Kulihat Mas Pras tidur lelap disampingku. Dia pasti kelelahan setelah acara pernikahan kami kemarin. Maafkan aku Mas Pras.

Perempuan Yang Ku Cinta

Hubungan ini masih saja terjadi di tengah perbincangan banyak orang yang membuat telingaku merah. Aku yang berprofesi sebagai guru les tak bisa membiarkan semua ini terjadi terus menerus. Apa nanti kata anak didiku bila tahu bahwa aku seorang guru yang menjijikan. Namun cinta ini terjadi begitu saja tanpa paksaan. Mengaliri seluruh nadiku dan telah mengisolasi otak dan hatiku. Salahkah bila kami jatuh cinta? Kata mereka hubungan kami adalah suatu hal yang tak waras. Hubungan kami dinilai laknat karena menyalahi norma. Tapi bagi kami hubungan ini sah-sah saja. Sebuah hubungan yang menumbuhkan kasih sayang yang tak pernah kami rasakan sebelumnya. Kami rela apapun demi mempertahankan hubungan ini.

Tanganku masih saja menggenggam handphone jadulku yang berwarna putih. Aku masih bingung apa yang harus kukatakan pada Lia untuk menolak undanganya malam ini ke tempat biasa. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu Lia untuk menumpahkan kerinduan yang terpendam setelah satu bulan kami berpisah Jogja-Bali. Kerinduan yang membuncah untuk segera besanding dengan Lia sang pujaan hati.

“Sayang, maaf ya aku tak bisa datang malam ini karena ada les tambahan.”

Sms itulah yang kemudian kukirimkan ke nomor Lia. Perasaan bersalah menyelimutiku. Namun aku harus bisa melakukanya. Karena demi reputasiku di depan umum dan di mata keluargaku.

***

“Biarkan mereka berkata sinis pada kita. Toh kita menjalani ini tanpa paksaan. Dan kita mendapatkan kebahagiaan dari hubungan ini.”

“Aku belum siap diasingkan orang sekitar apalagi keluargaku.”

“Ah, kamu memang egois. Aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela meniggalkan keluargaku demi kamu.”

“Semua ini ga wajar beib. Apa kamu mau dicela seumur hidupmu.” Sahutku

“Persetan dengan semua itu. Kita sama-sama cinta ya jalani saja semua apa adanya. Sekarang kamu pilih aku atau mereka.” Bentak Lia

***

“Aku cinta kamu sayang, bahkan sangat mencintaimu.”

Aku merasakan getar yan luar biasa saat Lia membawaku ke dalam pelukanya. Debar hangat menggelora membuatku merasakan apa itu surga dunia. Jangan salahkan kami bila kami memilih menjalani dunia seperti ini. Bukankah cinta itu hak siapa saja yang merasakanya. Mareka tak bisa memfonis kami sebagai manusia gila atau apalah. Apa yang kami rasakan ini nyata. Bukan sekedar mencari sensasi atau trauma pada cinta masa lalu. Menurut kami ini lenih baik daripada harus bergonta-ganti pasangan setiap malam. Tubuh wanita seolah seperti makanan yang siap dimakan kapan saja oleh para pria. Kaum liar yang memperlakukan wanita seenaknya. Tak jarang para wanita senang diperlakukan seprti itu. Bukankah itu lebih menjijikan dari kami? Kami hanya mencintai satu pasangan. Cinta kami cinta sebenarnya.

***

Aku merasa tersudut ketika Ayah dan Ibu mengutuku di depan semua keluarga. Aku dimaki habis-habisan ketika mereka tahu bahwa aku seorang lesbian. Mereka mengataiku seolah aku bukan anak mereka. Walau kemudian Ibu memberi nasehat lembut padaku untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berubah menjadi wanita yang sebenarnya. Tapi untuk apa aku berubah, kalau semua orang sudah tahu bahwa aku mencintai gadis bernama Lia. Di sisi lain aku tak ingin mengecewakan orang tuaku. Aku ingin berubah, melupakan Lia kekasihku. Maafkan aku Ayah, aku tak bisa melakukanya.

Pria bernama Satria yang disodorkan Ayah untuku tak membuatku menjadi wanita normal berdasar versi mereka. Aku tak bisa merasakan getar apapun ketika dekat dengan Satria. Getar yang kurasakan saat aku bersama Lia. Aku tak yakin apa aku bisa bahagia bersama Satria. Bullshit..... Cintaku hanya untuk Lia seorang, begitu juga dia.

***

“Sha, malam ini datang ya, aku sakit.”

Sejak undangannya malam itu aku memang belum sekalipun menemui Lia. Walau rasa kangen bergemuruh di dada. Namu aku menahan perasaan itu. Aku bisa merasakan betapa tersiksanya Lia karena sang kekasih tak kunjung datang untuk mengecup keningnya. Membuat kisah yang sempat tertunda selama satu bulan. Andai kamu tahu bahwa aku sangat merindukanku. Betapa ingin aku memelukmu dan mengucapkan cinta di telingamu. Maafkan aku sayang, aku tak bisa datang malam ini. Begitu juga esok, entah lusa.

Menanti Saskia Di Stasiun Tugu

Kali ini aku sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku ingin menikmati suasana stasiun ini yang mungkin tak bisa kunikmati lima tahun kedepan atau mungkin untuk selamanya. Berat rasanya harus meninggalkan kota ini. Banyak kenangan bersama saskia telah terlukis di beberapa sudut kota. Namun inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Aku tak bisa terus-menerus menjalin hubungan dengan saskia dengan cara sembunyi-sembunyi.

Aku mendadak ingin membawa pergi saskia sejauh mungkin. Menempati kota yang tak mungkin bisa dijamah keluarganya. Aku tak menghiraukan perkataan seorang teman dekatku bahwa cara ini tak bisa menyelesaikan masalah begitu saja. Bagiku inilah cara agar cintaku bersama saskia dapat abadi sampai maut menjemput. Aku lelah menjdi pria kedua dalam hidup saskia dua tahun belakangan ini. Padahal aku sebenarnya pria pertama yang menjalin hubungan dengan wanita itu. Aku mendadak harus tersisih hanya karena perjodohan di jaman modern ini.

Masih teringat di ingatanku ketika saskia menungguku di stasiun ini tiga tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkanya selama tiga bulan karena profesiku menuntutku untuk berpindah-pindah lokasi. Saat itu aku tak sabar ingin berjumpa dengan gadis berambut ikal itu. Mataku segera tertuju pada bangku paling pojok ketika turun dari kereta. Aku mendapati gadisku nan ayu mengenakan gaun warna biru berlinangan air mata. Betapa terkejutnya aku kala gadis itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sesunggukan ia memeluku. Tanpa basa-basi dia berkata telah menikah dengan pria lain satu minggu sebelum pertemuan itu.

“Maafkan aku Mas. Aku tak bisa melawan kehendak orang tua. Bagaimanapun aku masih mencintaimu.”

Aku tak bisa berkata apapun ketika saskia mengucapkan kalimat itu. Tak bisa dipungkiri betapa hancurnya hati ini mengetahui dirinya sudah menjadi milik pria lain secara sah. Namun aku tak ingin mengalah karena situasi ini. Aku tetap saja menjalin hubungan dengan saskia. Sebisa mungkin aku mengadakan janji dengan saskia untuk jalan berdua. Bermadu asmara layaknya dia dan suaminya. Sebelumnya aku tak pernah mempermasalahkan jika saskia lebih mengutamakan pria itu ketimbang aku. Sebab aku hanyalah pacar rahasianya. Sedangkan pria itu punya hak lebih atasnya.

“Aku tak bisa menjalani rumah tangga bersama pria yang tidak kucintai.”

“Bukankah kamu sudah menetapkan pilihan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuamu itu? “

“Aku mau kamu Mas yang menjadi suamiku.”

“Bagaimana kalau kita menikah saja Dik?”

Keputusan ini menunjukan betapa egoisnya diriku.Aku rela melakukan apa saja demi mendapatkan saskia seutuhnya. Bahkan aku tak peduli bagaimana sakitnya pria itu bila tahu istrinya memilih pergi bersama lelaki lain. Aku harap dia paham apa itu asas mencintai dan dicintai. Begitulah yang aku alami saat ini. Bukankah sesungguhnya akulah satu-satunya pria yang dicintai saskia. Akulah pria yang akan memenangkan hati saskia selamanya. Beginilah diriku, yang begitu menggilai perempuan berutubuh mungil itu.

Samar-samar aku mendengar suara saskia memanggilku. Kucari darimana asalnya suara itu. Menoleh ke kanan dan kiri tak kutemukan sosok perempuan manis itu. Hanya ada keramaian penumpang kereta yang baru saja turun. Tiba-tiba suara dering handphone memecah pikiranku.

“Mas, maafkan aku. Terlalu berat diri ini untuk meninggalkan suamiku. Aku tak ingin mengecewakan dia dan keluargaku. Terlebih aku tak mau nyawa yang ada dalam perutku tak tahu siapa ayah kandungnya. Sebaiknya buang jauh-jeuh kenangan kita.”

Tak pernah kusangka aku akan terluka untuk kedua kalinya. Kepalaku terasa berat menerima kenyataan ini. Aku mencoba membalas sms itu dengan tangan gemetar.

“Sampai kapanpun aku akan menunggumu di stasiun ini hingga kau siap pergi bersamaku.”

Gado-Gado Dan Sepeda Baru Kania

Adik kecilku yang cantik, manja telah menyelesaikan ujian sekolah dasar. Hasilnya pun sudah aku terima dari wali kelasnya. Nilai yang diperoleh sangat memuaskan. Ia pun mendapat peringkat pertama. Dari dulu aku percaya dia memiliki otak yang cerdas. Semua itu bisa dilihat dari prestasinya yang selalu menjadi juara kelas. Dia juga sering meraih juara di berbagai bidang perlombaan. Aku bangga pada adik kecilku. Atas dasar itulah aku berjuang keras mencari uang untuk membiayai sekolahnya. Aku ingin adiku bisa menjadi wanita sukses yang disegani banyak orang. Seringkali aku membayangkan wajahnya yang nampak anggun mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana. Aku harap itu bukan impian semata. Aku tak mau dia bernasib sama sepertiku. Keinginanku untuk kuliah tak bisa terwujud karena tak ada biaya. Jaman sekarang apa yang bisa didapat dari lulusan SMA. Rasanya sangat mustahil jika berharap bisa bekerja di kantoran. Lulusan seperti aku hanya bisa bekerja sebagai SPG, pelayan toko, ya semacam itulah. Kalau saja parasku cantik disertai postur tubuh yang menarik. Mungkin aku sudah bekerja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Sayangnya aku hanya wanita biasa yang menurutku tak pantas dipajang di mall.

Aku tak pernah putus asa dengan keadaan ini. Aku tak menyesali telah dilahirkan seperti ini. Bagiku bisa hidup bersama adik adalah sebuah kebahagiaan yang tiada duanya. Hanya adiklah yang kupunya. Ayah dan ibu sudah lebih dulu meninggalkan kami. Andai saja mereka masih ada.Pasti semua tak akan seperti ini. Tak apalah jika Tuhan berkehendak lain. Aku yakin mereka menginginkan anaknya kuat menjalani hidup ini tanpa mereka.

Pagi ini seperti biasanya aku harus menyiapkan sayur mayur ini itu. Semua akan kutaruh di gerobak biruku yang sudah mulai pudar warnanya. Inilah aktivitasku sehari-hari. Berkeliling menjajakan gado-gado. Mendorong gerobak menantang keramaian. Melawan terik matahari yang sudah menghitamkan tubuhku. Aku menikmati semua ini. Meskipun awalnya aku merasa malu dengan profesiku ini. Namun kekuatan untuk bertahan hidup membuatku ikhlas melakukanya. Tak peduli banyak mata memandangiku. Wajar saja bila banyak yang heran. Tak ada satupun perempuan yang rela berpanas-panasan mendorong gerobak untuk menjual gado-gado. Tak jarang juga aku digoda lelaki hidung loreng. Aku tak menghiraukan apa yang mereka lakukan. Asal mereka tak melakukan tindakan asusila. Hanya satu yang ada dipikiranku. Uang untuk membiayai hidup dan sekolah adiku.

Awalnya gado-gado yang kujual tak laku. Lambat laun masyarakat mulai menyukai gado-gado buatanku. Aku mulai mendapat banyak pelanggan. Hampir setiap hari gado-gadoku laku terjual. Aku sangat bersukur akan hal ini. Terkadang aku mendapat pesanan dari ibu-ibu arisan. Gado-gadoku biasa disajikan di acara mereka. Aku sendiri tak tahu mengapa aku mendadak bisa membuat gado-gado. Padahal sebelumnya aku perempuan yang jarang menginjakan kaki di dapur apalagi memasak. Ide untuk berjualan gado-gado berawal dari secarik resep yang kudapat di pinggir jalan. Aku berpikir resep itu dikirim Tuhan untuku. Sejak saat itu aku mencoba membuat gado-gado.

“Kak, jangan lupa lho janjinya.” Seru adiku dari belakang sambil memeluku.

“Iya manis. Doakan kakak ya biar dapat rejeki banyak.” Sahutku sambil mencium rambutnya.

Lagi-lagi dia mengingatkanku tentang sepeda itu.Uangku belum cukup untuk membelikanya sepeda baru. Aku berjanji akan mengabulkan permintaanya jika ia lulus sekolah dengan nilai memuaskan. Aku harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaanya mempunyai sepeda baru. Sebagian tabunganku harus kugunakan untuk membiayai sekolahnya. Biaya masuk SMP tidaklah murah. Biaya sekolah di negeri ini masih mencekik lehar bagi kalangan sepertiku. Apalagi aku ingin menyekolahkan adik di sekolah yang berkualitas. Apapun akan kulakukan demi adiku tercinta.

***

Dua hari lagi adik masuk sekolah. Aku belum bisa menyediakan sepeda baru untuknya. Uang yang kupunya masih kurang seratus ribu. Entah mengapa beberapa hari ini gado-gadoku tak laku. Setiap hari hanya terjual dua sampai tiga piring. Uang yang kudapat hanya cukup untuk makan sehari.Aku tak ingin mengecewakan adik. Berkali-kali dia menanyakan kapan bisa mencoba sepeda barunya. Aku hanya bisa menjawab besok dan besok. Aku melihat rasa kecewa dari raut wajahnya. Aku tak ingin melihatnya sedih. Ia jadi sering melamun dan malas makan akhir-akhir ini.

“Neng, boleh minta gado-gadonya ga?” Tanya seorang bapak tua berpakaian kumal menghampiri gerobak gado-gadoku yang sedari tadi kuparkir di depan toko buku.

“Eh...iya pak.” Jawabku merasa iba melihat kondisi bapak itu yang nampak kelaparan.

“Bapak lapar neng. Sudah dua hari ga makan.”

“Oh gitu to. Ini gado-gadonya pak.”

“Anak-anak sini semuanya.” Seru bapak itu.

Bapak itu memanggil tujuh anak yang berdiri di dekat trotoar. Mereka berhamburan datang menghampiri bapak itu. Astaga, siapa mereka itu. Satu per satu mereka menyuapkan sepiring gado-gado yang kuberikan pada bapak itu. Ternyata tujuh anak itu adalah anak-anaknya. Mereka juga kelaparan. Aku terharu melihat mereka berkerumun untuk berbagi sesuap gado-gado. Hatiku tergugah melihat pemandangan itu. Aku ingin mereka makan sampai kenyang. Perut mereka pasti masih lapar jika hanya makan sesuap gado-gado. Tak apalah aku tak mendapatkan uang lebih hari ini. Toh rejeki masih bisa dicari. Masih ada sisa gado-gado yang bisa kujual. Bukankah manusia dicptakan untuk saling membantu. Aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Makanya aku tak tega melihat anak-anak itu menangis sambil memegangi perutnya. Mereka senang bisa mendapatkan sepiring gado-gado dariku. Masing-masing makan dengan lahapnya. Ucapan terima kasih pun terlontar dari bibir mereka. Aku bergegas berkeliling menjajakan gado-gado yang tersisa. Semoga ada yang mau membeli gado-gado ini.

“Non...kemari.” Teriak seorang ibu dari balik pagar.

“Iya bu. Mau beli?”

“Masih banyak ga gado-gadonya?” Tanya ibu itu

“Ya lumayan bu.”

“Semuanya aku beli. Tolong bawa ke dalam.”

Hatiku sangat senang mendengar perkataan ibu itu. Seperti ada air yang membasahi kerongkonganku yang telah kering. Seolah hujan datang menyejukan pikiran ini setelah kemarau melanda. Berkali-kali aku ucapkan sukur pada Tuhan.

***

“Kakak....ini sepeda siapa?”

“Itu sepeda kamu manis.”

“Yang bener kak?”

“Ya iyalah, masa ya iya dong.”

“Bagus banget kak. Makasih ya.”

Tiba-tiba aku membuka mata. Baru kusadari ternyata aku baru saja tertidur. Aku berlari ke depan rumah. Mencari sepeda baru adik yang baru saja kubeli. Kucari-cari sepeda itu namun tak kutemukan wujudnya. Aku baru sadar rupanya aku baru saja bermimpi. Dan sepeda itu memang belum terbeli. Aku tak mendapatkan uang pembelian gado-gado dari ibu itu. Katanya uang itu baru akan dibayarkan besok. Semoga esok uang itu sudah kudapat.

“Kakak...mana sepedanya?”

“Maaf ya sayang. Kakak belum punya uang cukup untuk membelikanmu sepeda. Mungkin baru besok kakak bisa membelikanmu sepeda.”

“Tak apa kok kak kalau aku kakak ga bisa. Yang penting kita bisa makan. Bisa melanjutkan sekolah saja aku sudah senang.”

“Makasih ya manis udah mau ngertiin kakak. Kakak janji akan beliin kamu sepeda baru.”

Semangkok Soto Untuk Rani

Dua ratus empat puluh menit aku duduk di depan meja hitam ini. Rasanya bibirku tak bisa berkata apa-apa lagi. Membisu mengingat bayang wajahmu yang makin membuatku hilang akal. Tanganku yang dari tadi memegangi handphone masih saja berharap ada sebuah sms msuk, dan itu dari kamu. Namun entah mengapa setiap dering sms yang bebunyi bukan sms dari kamu yang kudapati. Aku merasa sangat merindukanmu. Tak ada satupun yang bisa menggambarkan betapa kerinduan ini sangat membuncah di dada. Menelusup raga yang kian tercekik aroma tubuhmu. Nelangsa karena khayal ingin mendekap dan menghapus air matamu. Senyumu membawa aliran hariku terasa hangat penuh debar yang mendamaikanku. Dimanakah kau wahai matahariku.

***

“Tolong anterin ceweku ke bank ya. Aku ga punya waktu buat nganterin. Jadwalku hari ini padat.”

“Okelah.”

Kalau saja aku tahu akan seperti ini. Aku tak akan mengiyakan permintaan Hendra untuk mengantarkan ceweknya pada saat itu. Bila akhirnya menumbuhkan cinta yang tak bisa aku bunuh sampai kapanpun. Cinta yang seharusnya tak kurasakan di setiap hembusan nafasku. Pertama kali kutatap wajahnya. Aku terbius pesonanya yang mulai memenuhi otaku dengan bayangnya. Tingkahnya yang manja dan cerewet menjadi bagian yang menarik bagiku.

“Mau kemana nih?” Tanyaku

“Kita ke supermarket dulu ya.” Tutur Rani manja

Aku sering mengantar kemanapun yang ia mau. Kesibukan Hendra tak bisa membuatnya selalu ada disampingya ketika Rani membutuhkan. Rani selalu bercerita kalau ia kesal karena Hendra tak pernah ada waktu untuk Rani. Ia tak mau merepotkanku dengan minta antar kesana-kemari. Namun jujur aku tak pernah merasa direpotkan. Bagiku menolong orang yang ku sayang adalah sebuah pengorbanan. Aku bahagia bisa melihat Rani dengan mengantarnya ke suatu tempat. Kata teman aku seperti supirnya saja. Semua itu tak jadi masalah bagiku. Bahkan menunggunya berjam-jam ketika ia ada interview di sebuah perusahaan. Aku menunggu sendirian selama dua jam. Itu hal yang membosankan. Namun aku rela untuk gadis bernama Rani.

“Rud, makan yuk.” Ajak Rani

“Dimana?”

“Makan soto aja. Terserah kamu dimana.”

“Okelah kalau begitu.”

Melihat Rani makan dengan lahapnya sangat menyenangkan. Dia suka makan, porsi makanyapun banyak. Namun anehnya ia tak gemuk-gemuk. Rani selalu mengeluh kenapa dirinya kurus terus. Padahal makan sudah banyak, apalagi ngemil tiap waktu. Untuk ukuran tubuh, Rani tergolong gadis yang mungil. Tubuhnya yang mungil tak menunjukan bahwa ia berusia dua puluh empat tahun. Kata orang-orang ia seperti anak SMA. Menurutku Rani awet muda.

Semangkok soto telah membuatku semakin dekat dengan Rani. Ia senang banget makan soto, tapi ga pake ayam. Yah karena dia ga doyan ayam, apapun masakanya. Satu hal positif dari Rani yang tidak dimiliki wanita lain adalah ia pandai memasak. Rani suka makan ini itu mencoba berbagai resep. Sampai akhirnya Rani menantang aku untuk membuat semangkok soto.

Sejak tantangan yang diberikan Rani, aku mulai mencari resep membuat soto. Kemudian aku mencoba resep itu. Memasak adalah hal yang tak pernah aku lakukan. Namun karena diminta Rani, aku menuruti saja tantangan itu. Aku bingung harus diapakan bahan-bahan soto itu. Akhirnya aku dapat membuat soto pertamaku. Sungguh menakjubkan rasanya asin banget. Aku kecewa dengan hasil masakan seperti itu. Namun aku tak pantang menyerah. Tiap hari aku mencoba membuat soto sepulang kuliah. Aku pun berhasil membuat semangkok soto dengan rasa pas setelah tiga kali gagal. Waktu itu aku langsung menelepon Rani memintanya datang mencicipi hasil masakanku. Rani ternyata tak bisa datang karena suatu hal.

Seyogyanya aku menepis rasa ini di tepian tebing

Cinta ini akan terperosok dalam jurang dan mati

Namun sosoknya mengumbar harap yang menggila untuk naluriku

Aku kangen kamu.....

Kekecewaanku karena Rani tidak bisa datang mencicipi semangkok soto buatanku, tak membuatku patah semangat. Aku mencoba memasak lagi dan mengundang Rani untuk datang. Tapi entah mengapa setiap kali aku memintanya untuk datang, dia tak bisa memenuhi permintaanku dengan alasan ini itu. Jujur aku kecewa sekali karena tiga kali Rani tak bisa memenuhi permintaanku walau hanya lima menit saja. Sekedar menghargai apa yang telah aku lakukan. Menjawab tantangan yang ia berikan padaku. Terakhir ketika ia tak bisa datang dengan alasan ada janji dengan Hendra. Hatiku tak bisa menerima bila Rani menyebut nma Hendra.

“Kamu ga boleh egois. Hendra itu kekasinya.”

Suara hatiku berbicara. Tidak bisa kupungkiri bahwa dari awal aku telah melakukan kesalahan. Perasaan ini membuatku gila karena tak mungkin aku meraih cinta Rani sepenuhnya. Akupun tak pernah bisa mengungkapkan apa yang kurasa.

***

“Rani ke Jakarta tadi pagi.”

Sms Hendra membuatku kecewa untuk sekian kalinya. Pantas saja Rani tak membalas smsku. Bahkan ia tak mengabariku atas kepergianya. Kalau saja dia bicara, aku tak kan menunggunya selama ini. Ah, aku masih saja duduk di depan meja hitam ini setelah tiga ratus menit berlalu.. Menanti sesuatu yang tak pasti. Soto yang kusajikan beberapa jam lalupun sudah dingin. Pasti sudah tak enak dimakan. Perlahan kusuapkan soto itu ke mulutku. Rasanya kini telah hambar, padahal tadi pas di lidah. Ketidakhadiran Rani mungkin membuat rasa soto ini berubah.

Sesuap soto yang terakhir kunikmati sambil membayangkan senyum Rani. Tawanya yang menyenangkan, dan semua tentangnya. Aku tersedak ketika ada seorang wanita memangilku dari belakang.

“Rud, maaf ya aku terlambat.”

Tidak salah lagi itu suara Rani. Namun bukankah dia sudah berangkat Jakarta tadi pagi. Mengapa siang ini ia malah disini. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tak mengerti apa yang akan ia katakan. Namun dari matanya aku menangkap bahasa cinta yang tersimpan. Ah, itu hanya perasaanku saja, atau memang itu kenyataanya. Rani, mengapa kau hadir ketika semangkok soto ini sudah habis.