Ketika matamu serupa rindu
Itulah rindu yang kukikis dari batu-batu alotku
Ketika rambutmu serupa penat
Itulah penat yang kutangkis dari malam-malam asamku
Ketika senyummu serupa peluh
Itulah peluh yang kualirkan dari saluran nadiku
Di sini, aku terdiam sendiri
Memandangi lekukmu yang menghanyutkan
Cukup banyak yang mesti kukristalkan
Di batas cakrawala kita
Matamu menjelma elang
Menukik ke sudutku menggelayuti perihku
Senyummu menjelma bulan sabit, terkadang
Bukankah begitu wahai pangeranku
Kamulah nafas di dadaku
Yang berdetak badai
Akankah begitu wahai pangeranku
Kamulah jiwa di tubuhku
Yang berdenyut angin
No comments:
Post a Comment