Ku kendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju kota yang kutinggalkan sembilan tahun yang lalu. Menyusuri jalan yang menurutku tak jauh berbeda. Bahkan kemacetan semakin bertambah. Mungkin karena sekarang banyak orang yang memiliki kendaraan. Bayangkan saja bila dalam satu keluarga memiliki dua sampai empat mobil. Sebuah pemborosan, menambah adanya pemanasan global. Karena memiliki uang yang banyak mereka dengan seenaknya membeli sesuka mereka tanpa memikirkan dampak di kehidupan mendatang.Manusia jaman sekarang semakin tidak menghargai alam, pantas saja kalau akhir-akhir ini alam sering mengamuk.
Pikiranku segera kualihkan setelah sampai di kota yang selama ini kurindukan. Kulihat kondisinya semakin baik. Dulu memang banyak bangunan, gedung-gedung, tapi kali ini lebih banayak lagi bangunan yang terlihat. Semakin banayk mal-mal, toko-toko, bahkan kantor gubernur pun tampak ada yang berbeda. Taman kotanya semakin indah dengan bunga-bunga. Sekarang banyak juga dua insan yang bermadu kasih di taman itu. Bagaimana kalau malam hari, pasti akan lebih indah dihiasi lampu-lampu kota. Aku melewati jalan-jalan yang dulu rusak tak karuan, kini sudah diaspal halus. Tak seperti dulu lagi yang harus siap tergeol-geol karena harus melewati jalan yang berlubang. Pasarnya yang terkenal pun sekarang makin besar saja dan makin padat penghuni. Oh, kota kenanganku kini seperti ini. Dimana aku harus bernostalgia kalau semuanya sudah berubah.
Aku mencoba menyusuri jalan-jalan yang dulu sering ku lalui bersama teman- teman pada saat SD. Aku mengingat kejadian-kajadian konyol , gokil yang pernah terjadi. Gilang, si gendut yang doyan makan pernah kesurupan gara-gara buang air kecil sembaranagan di tempat kami latihan berenang. Kiki, pernah disemprot air oleh ibu-ibu karena mengatainya ibu gembrot. Apalagi Icuk yang dikejar-kejar anjing karena iseng menari-nari dan menjulurkan lidah di depan anjing yang berada di belakang pagar. E, si pemilik rumah akhirnya keluar untuk membuang sampah, dan kelurlah anjing itu lalu mengejar-ngejar dia. Rani ,pernah disergap di belakang sekolah oleh orang gila gara-gara sikap dia yang suka kecentilan. Aku jadi ingat dengan satu orang. Iwan, dimana kamu sekarang. Sebuah cinta yang konyol saat kami kelas enam SD. Tapi entah mengapa aku tak bisa melupakan dia. Bahkan aku pun tak tahu dia seperti apa sekarang. Setelah aku pindah, kami tak pernah lagi Saling berkomunikasi. Bahkan tak ada ucap perpisahan karena saat itu kondisi sangat mendesak.
Ku hentikan mobilku, aku ingin berdiam sejenak di pantai kenangan ini. Aku ingin melihat seperti apa pantai yang dulu sering aku kunjungi bersama dengan teman-teman. Kutelusuri jalan-jalan berpasir dengan kaki telanjang. Merasakan gelitik air mengguyur kakiku. Ternyata pantai ini masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang makin kotor banyak samaph berserakan. Mungkin juga karena banyak manusia yang berkunjung dan terpenting mereka yang tak peduli dengan lingkungan.
Aku duduk di atas pasir sambil memandang lepas menunggu matahari tenggelam. Aku rindu melihat sunset. Kembali aku teringat pada sebuah nama. Iwan, dimana dan seperti apa kamu sekarang. Banyak hal indah dan lucu yang pernah kita lalui. Aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Kau sering memanggilku dengan sebutan nona manis. Dulu kita pernah berjanji untuk datang di pantai ini saat usia kita dua puluh tahun hanya berdua saja. Dan kini usia kita sudah dua puluh tahun. Apa kau mengingat janji itu. Ah, bodohnya aku, itu hanya sebuah janji dua anak kecil ingusan yang sedang mengenal cinta monyet.
Tiba-tiba ada seorang pemuda yang sepertinya seumuranku duduk di sampingku. Matanya tertuju pada deburan ombak yang lepas. Sepertinya dia melamun, bahkan dari tadi kulihat dia tak berkedip sedikitpun. Tiba-tiba dia mengucapkan sebuah kalimat.
“D imana kamu sekarang.......?”
Pikirku dia sedang menanti seseorang, barangkali kekasihnya. Kalu begitu orang ini sama sepertiku yang juga sedang menanti seseorang. Kuperhatikan wajahnya lumayan tampan. Memiliki dagu lancip, rambut keriting namun cepak, kulit putih dan hidung mancung. Astaga, mengapa pemuda ini hampir mirip denagn Iwan. Tapi mana mungkin, aku sudah
lama berpisah denganya. yang ku ingat hanya wajah manisnya saat kecil dulu. Ku lihat dia memiliki tahi lalat di dekat kening. Persis sama seperti Iwan. Tapi apa mungkin. Segera ku buang pikiran konyol ini. Aku melihat dia memegangi kalung berbandul seorang peri. Dia pandangi terus kalung itu. Dan beberapa menit kemudian dia membuang kalung itu menyatu bersama air laut.
Hari sudah gelap, aku ingat ada janji denagn teman di sebuah kafe dekat taman kota. Segera kunyalakan mobilku dan kutelusuri jalan kenangan ini. Entah mengapa pikiranku tertuju pada pemuda yang ada disampingku tadi. Tiba-tiba aku ingat dengan kalung yang dipegangnya tadi. Ya Tuhan, itu seperti kalungku yang dulu kuberikan kepada Iwan sebagai hadiah perpisahan. Aku segera memutar mobil untuk bergegas kembali ke pantai itu lagi. Sampai disana aku mencari-cari pemuda itu. Namun ternyata dia sudah tidak ada di pantai itu. Dan aku kemudian berdiri di bibir pantai agar air mengguyur kakiku yang lelah. Kemudian aku merasakan ada sesuatu di kakiku. Dan astaga, ternyata benda yang ada di bawah akakiku adalah kalung dengan bandul seorang peri yang dibuang pemuda tadi. Aku mengambilnya untuk mengamatinya. Ini memang kalung yang sembilan tahun lalu kuberikan kepada Iwan. Berarti, kaukah tadi Iwan. Iwan yang ku tinggalkan bersama sebuah kalung peri untuk melindungimu.
No comments:
Post a Comment