Malam ini, ketika bintang telah berhari-hari
Sembunyi bersama kenangan semusim lalu
Kita,
Ombak tetap berdebur dan tak pernah ingkar
Dimana membelai bibir pantai
Tergulir kata-kata cinta dalam sejuta kerinduan
Sampai kapan aku berhenti memujamu
Aku yang selalu mendustaimu
Dan aku terjepit bersama cinta sekarang
Dalam kehangatan
Aku mohon padamu
Hentikan segala nyanyianmu yang meraung
Di mimpi-mimpi kosong
Mempertahankan mimpi semusim lalu
Telingaku,tak kuat mendengarnya
Aku, harus selalu mendustaimu
Bukankah itu tak salah
Tertatih-tatih aku berjalan setelah semusim
Mengembara sebagai musafir meninggalakan Saturday oase yang selama ini menghidupiku denga air jiwanya
Yang membasahi keringnya tubuh karena kemarau tahun lalu
Terhenti aku kemudia di suatu persinggahan
Penuh dengan padang perdu
Sekumpulan mawar merah yang melambai-lambai padaku
Dan aku tertarik untuk merambahinya
Sangat indah, ternyata
Ah, milik siapa mawar-mawar ini
Dan aku teringat edelweiss yang tertinggal di kamarku
Sisi percintaan semusim lalu
Seorang hadir di binarnya mawar merah
Kemudian memetiknya satu untuk dibrikan padaku
Aku ingin
Menerimanya
Karena itu indah
Ah, aku ingat masih punya edelweis di kamar putihku
Bukankah itu sudah layu dan menyisakan
Kenangan-kenangan memahat luka
Dan ku coba
Meraih mawar itu denga tanagn gemetar
Kan ku letakan di kamar putihku
Tapi bagaimana dengan edelweisnya
No comments:
Post a Comment