Tuesday, May 17, 2011

Semangkok Soto Untuk Rani

Dua ratus empat puluh menit aku duduk di depan meja hitam ini. Rasanya bibirku tak bisa berkata apa-apa lagi. Membisu mengingat bayang wajahmu yang makin membuatku hilang akal. Tanganku yang dari tadi memegangi handphone masih saja berharap ada sebuah sms msuk, dan itu dari kamu. Namun entah mengapa setiap dering sms yang bebunyi bukan sms dari kamu yang kudapati. Aku merasa sangat merindukanmu. Tak ada satupun yang bisa menggambarkan betapa kerinduan ini sangat membuncah di dada. Menelusup raga yang kian tercekik aroma tubuhmu. Nelangsa karena khayal ingin mendekap dan menghapus air matamu. Senyumu membawa aliran hariku terasa hangat penuh debar yang mendamaikanku. Dimanakah kau wahai matahariku.

***

“Tolong anterin ceweku ke bank ya. Aku ga punya waktu buat nganterin. Jadwalku hari ini padat.”

“Okelah.”

Kalau saja aku tahu akan seperti ini. Aku tak akan mengiyakan permintaan Hendra untuk mengantarkan ceweknya pada saat itu. Bila akhirnya menumbuhkan cinta yang tak bisa aku bunuh sampai kapanpun. Cinta yang seharusnya tak kurasakan di setiap hembusan nafasku. Pertama kali kutatap wajahnya. Aku terbius pesonanya yang mulai memenuhi otaku dengan bayangnya. Tingkahnya yang manja dan cerewet menjadi bagian yang menarik bagiku.

“Mau kemana nih?” Tanyaku

“Kita ke supermarket dulu ya.” Tutur Rani manja

Aku sering mengantar kemanapun yang ia mau. Kesibukan Hendra tak bisa membuatnya selalu ada disampingya ketika Rani membutuhkan. Rani selalu bercerita kalau ia kesal karena Hendra tak pernah ada waktu untuk Rani. Ia tak mau merepotkanku dengan minta antar kesana-kemari. Namun jujur aku tak pernah merasa direpotkan. Bagiku menolong orang yang ku sayang adalah sebuah pengorbanan. Aku bahagia bisa melihat Rani dengan mengantarnya ke suatu tempat. Kata teman aku seperti supirnya saja. Semua itu tak jadi masalah bagiku. Bahkan menunggunya berjam-jam ketika ia ada interview di sebuah perusahaan. Aku menunggu sendirian selama dua jam. Itu hal yang membosankan. Namun aku rela untuk gadis bernama Rani.

“Rud, makan yuk.” Ajak Rani

“Dimana?”

“Makan soto aja. Terserah kamu dimana.”

“Okelah kalau begitu.”

Melihat Rani makan dengan lahapnya sangat menyenangkan. Dia suka makan, porsi makanyapun banyak. Namun anehnya ia tak gemuk-gemuk. Rani selalu mengeluh kenapa dirinya kurus terus. Padahal makan sudah banyak, apalagi ngemil tiap waktu. Untuk ukuran tubuh, Rani tergolong gadis yang mungil. Tubuhnya yang mungil tak menunjukan bahwa ia berusia dua puluh empat tahun. Kata orang-orang ia seperti anak SMA. Menurutku Rani awet muda.

Semangkok soto telah membuatku semakin dekat dengan Rani. Ia senang banget makan soto, tapi ga pake ayam. Yah karena dia ga doyan ayam, apapun masakanya. Satu hal positif dari Rani yang tidak dimiliki wanita lain adalah ia pandai memasak. Rani suka makan ini itu mencoba berbagai resep. Sampai akhirnya Rani menantang aku untuk membuat semangkok soto.

Sejak tantangan yang diberikan Rani, aku mulai mencari resep membuat soto. Kemudian aku mencoba resep itu. Memasak adalah hal yang tak pernah aku lakukan. Namun karena diminta Rani, aku menuruti saja tantangan itu. Aku bingung harus diapakan bahan-bahan soto itu. Akhirnya aku dapat membuat soto pertamaku. Sungguh menakjubkan rasanya asin banget. Aku kecewa dengan hasil masakan seperti itu. Namun aku tak pantang menyerah. Tiap hari aku mencoba membuat soto sepulang kuliah. Aku pun berhasil membuat semangkok soto dengan rasa pas setelah tiga kali gagal. Waktu itu aku langsung menelepon Rani memintanya datang mencicipi hasil masakanku. Rani ternyata tak bisa datang karena suatu hal.

Seyogyanya aku menepis rasa ini di tepian tebing

Cinta ini akan terperosok dalam jurang dan mati

Namun sosoknya mengumbar harap yang menggila untuk naluriku

Aku kangen kamu.....

Kekecewaanku karena Rani tidak bisa datang mencicipi semangkok soto buatanku, tak membuatku patah semangat. Aku mencoba memasak lagi dan mengundang Rani untuk datang. Tapi entah mengapa setiap kali aku memintanya untuk datang, dia tak bisa memenuhi permintaanku dengan alasan ini itu. Jujur aku kecewa sekali karena tiga kali Rani tak bisa memenuhi permintaanku walau hanya lima menit saja. Sekedar menghargai apa yang telah aku lakukan. Menjawab tantangan yang ia berikan padaku. Terakhir ketika ia tak bisa datang dengan alasan ada janji dengan Hendra. Hatiku tak bisa menerima bila Rani menyebut nma Hendra.

“Kamu ga boleh egois. Hendra itu kekasinya.”

Suara hatiku berbicara. Tidak bisa kupungkiri bahwa dari awal aku telah melakukan kesalahan. Perasaan ini membuatku gila karena tak mungkin aku meraih cinta Rani sepenuhnya. Akupun tak pernah bisa mengungkapkan apa yang kurasa.

***

“Rani ke Jakarta tadi pagi.”

Sms Hendra membuatku kecewa untuk sekian kalinya. Pantas saja Rani tak membalas smsku. Bahkan ia tak mengabariku atas kepergianya. Kalau saja dia bicara, aku tak kan menunggunya selama ini. Ah, aku masih saja duduk di depan meja hitam ini setelah tiga ratus menit berlalu.. Menanti sesuatu yang tak pasti. Soto yang kusajikan beberapa jam lalupun sudah dingin. Pasti sudah tak enak dimakan. Perlahan kusuapkan soto itu ke mulutku. Rasanya kini telah hambar, padahal tadi pas di lidah. Ketidakhadiran Rani mungkin membuat rasa soto ini berubah.

Sesuap soto yang terakhir kunikmati sambil membayangkan senyum Rani. Tawanya yang menyenangkan, dan semua tentangnya. Aku tersedak ketika ada seorang wanita memangilku dari belakang.

“Rud, maaf ya aku terlambat.”

Tidak salah lagi itu suara Rani. Namun bukankah dia sudah berangkat Jakarta tadi pagi. Mengapa siang ini ia malah disini. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tak mengerti apa yang akan ia katakan. Namun dari matanya aku menangkap bahasa cinta yang tersimpan. Ah, itu hanya perasaanku saja, atau memang itu kenyataanya. Rani, mengapa kau hadir ketika semangkok soto ini sudah habis.

No comments: