Adik kecilku yang cantik, manja telah menyelesaikan ujian sekolah dasar. Hasilnya pun sudah aku terima dari wali kelasnya. Nilai yang diperoleh sangat memuaskan. Ia pun mendapat peringkat pertama. Dari dulu aku percaya dia memiliki otak yang cerdas. Semua itu bisa dilihat dari prestasinya yang selalu menjadi juara kelas. Dia juga sering meraih juara di berbagai bidang perlombaan. Aku bangga pada adik kecilku. Atas dasar itulah aku berjuang keras mencari uang untuk membiayai sekolahnya. Aku ingin adiku bisa menjadi wanita sukses yang disegani banyak orang. Seringkali aku membayangkan wajahnya yang nampak anggun mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana. Aku harap itu bukan impian semata. Aku tak mau dia bernasib sama sepertiku. Keinginanku untuk kuliah tak bisa terwujud karena tak ada biaya. Jaman sekarang apa yang bisa didapat dari lulusan SMA. Rasanya sangat mustahil jika berharap bisa bekerja di kantoran. Lulusan seperti aku hanya bisa bekerja sebagai SPG, pelayan toko, ya semacam itulah. Kalau saja parasku cantik disertai postur tubuh yang menarik. Mungkin aku sudah bekerja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Sayangnya aku hanya wanita biasa yang menurutku tak pantas dipajang di mall.
Aku tak pernah putus asa dengan keadaan ini. Aku tak menyesali telah dilahirkan seperti ini. Bagiku bisa hidup bersama adik adalah sebuah kebahagiaan yang tiada duanya. Hanya adiklah yang kupunya. Ayah dan ibu sudah lebih dulu meninggalkan kami. Andai saja mereka masih ada.Pasti semua tak akan seperti ini. Tak apalah jika Tuhan berkehendak lain. Aku yakin mereka menginginkan anaknya kuat menjalani hidup ini tanpa mereka.
Pagi ini seperti biasanya aku harus menyiapkan sayur mayur ini itu. Semua akan kutaruh di gerobak biruku yang sudah mulai pudar warnanya. Inilah aktivitasku sehari-hari. Berkeliling menjajakan gado-gado. Mendorong gerobak menantang keramaian. Melawan terik matahari yang sudah menghitamkan tubuhku. Aku menikmati semua ini. Meskipun awalnya aku merasa malu dengan profesiku ini. Namun kekuatan untuk bertahan hidup membuatku ikhlas melakukanya. Tak peduli banyak mata memandangiku. Wajar saja bila banyak yang heran. Tak ada satupun perempuan yang rela berpanas-panasan mendorong gerobak untuk menjual gado-gado. Tak jarang juga aku digoda lelaki hidung loreng. Aku tak menghiraukan apa yang mereka lakukan. Asal mereka tak melakukan tindakan asusila. Hanya satu yang ada dipikiranku. Uang untuk membiayai hidup dan sekolah adiku.
Awalnya gado-gado yang kujual tak laku. Lambat laun masyarakat mulai menyukai gado-gado buatanku. Aku mulai mendapat banyak pelanggan. Hampir setiap hari gado-gadoku laku terjual. Aku sangat bersukur akan hal ini. Terkadang aku mendapat pesanan dari ibu-ibu arisan. Gado-gadoku biasa disajikan di acara mereka. Aku sendiri tak tahu mengapa aku mendadak bisa membuat gado-gado. Padahal sebelumnya aku perempuan yang jarang menginjakan kaki di dapur apalagi memasak. Ide untuk berjualan gado-gado berawal dari secarik resep yang kudapat di pinggir jalan. Aku berpikir resep itu dikirim Tuhan untuku. Sejak saat itu aku mencoba membuat gado-gado.
“Kak, jangan lupa lho janjinya.” Seru adiku dari belakang sambil memeluku.
“Iya manis. Doakan kakak ya biar dapat rejeki banyak.” Sahutku sambil mencium rambutnya.
Lagi-lagi dia mengingatkanku tentang sepeda itu.Uangku belum cukup untuk membelikanya sepeda baru. Aku berjanji akan mengabulkan permintaanya jika ia lulus sekolah dengan nilai memuaskan. Aku harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaanya mempunyai sepeda baru. Sebagian tabunganku harus kugunakan untuk membiayai sekolahnya. Biaya masuk SMP tidaklah murah. Biaya sekolah di negeri ini masih mencekik lehar bagi kalangan sepertiku. Apalagi aku ingin menyekolahkan adik di sekolah yang berkualitas. Apapun akan kulakukan demi adiku tercinta.
***
Dua hari lagi adik masuk sekolah. Aku belum bisa menyediakan sepeda baru untuknya. Uang yang kupunya masih kurang seratus ribu. Entah mengapa beberapa hari ini gado-gadoku tak laku. Setiap hari hanya terjual dua sampai tiga piring. Uang yang kudapat hanya cukup untuk makan sehari.Aku tak ingin mengecewakan adik. Berkali-kali dia menanyakan kapan bisa mencoba sepeda barunya. Aku hanya bisa menjawab besok dan besok. Aku melihat rasa kecewa dari raut wajahnya. Aku tak ingin melihatnya sedih. Ia jadi sering melamun dan malas makan akhir-akhir ini.
“Neng, boleh minta gado-gadonya ga?” Tanya seorang bapak tua berpakaian kumal menghampiri gerobak gado-gadoku yang sedari tadi kuparkir di depan toko buku.
“Eh...iya pak.” Jawabku merasa iba melihat kondisi bapak itu yang nampak kelaparan.
“Bapak lapar neng. Sudah dua hari ga makan.”
“Oh gitu to. Ini gado-gadonya pak.”
“Anak-anak sini semuanya.” Seru bapak itu.
Bapak itu memanggil tujuh anak yang berdiri di dekat trotoar. Mereka berhamburan datang menghampiri bapak itu. Astaga, siapa mereka itu. Satu per satu mereka menyuapkan sepiring gado-gado yang kuberikan pada bapak itu. Ternyata tujuh anak itu adalah anak-anaknya. Mereka juga kelaparan. Aku terharu melihat mereka berkerumun untuk berbagi sesuap gado-gado. Hatiku tergugah melihat pemandangan itu. Aku ingin mereka makan sampai kenyang. Perut mereka pasti masih lapar jika hanya makan sesuap gado-gado. Tak apalah aku tak mendapatkan uang lebih hari ini. Toh rejeki masih bisa dicari. Masih ada sisa gado-gado yang bisa kujual. Bukankah manusia dicptakan untuk saling membantu. Aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Makanya aku tak tega melihat anak-anak itu menangis sambil memegangi perutnya. Mereka senang bisa mendapatkan sepiring gado-gado dariku. Masing-masing makan dengan lahapnya. Ucapan terima kasih pun terlontar dari bibir mereka. Aku bergegas berkeliling menjajakan gado-gado yang tersisa. Semoga ada yang mau membeli gado-gado ini.
“Non...kemari.” Teriak seorang ibu dari balik pagar.
“Iya bu. Mau beli?”
“Masih banyak ga gado-gadonya?” Tanya ibu itu
“Ya lumayan bu.”
“Semuanya aku beli. Tolong bawa ke dalam.”
Hatiku sangat senang mendengar perkataan ibu itu. Seperti ada air yang membasahi kerongkonganku yang telah kering. Seolah hujan datang menyejukan pikiran ini setelah kemarau melanda. Berkali-kali aku ucapkan sukur pada Tuhan.
***
“Kakak....ini sepeda siapa?”
“Itu sepeda kamu manis.”
“Yang bener kak?”
“Ya iyalah, masa ya iya dong.”
“Bagus banget kak. Makasih ya.”
Tiba-tiba aku membuka mata. Baru kusadari ternyata aku baru saja tertidur. Aku berlari ke depan rumah. Mencari sepeda baru adik yang baru saja kubeli. Kucari-cari sepeda itu namun tak kutemukan wujudnya. Aku baru sadar rupanya aku baru saja bermimpi. Dan sepeda itu memang belum terbeli. Aku tak mendapatkan uang pembelian gado-gado dari ibu itu. Katanya uang itu baru akan dibayarkan besok. Semoga esok uang itu sudah kudapat.
“Kakak...mana sepedanya?”
“Maaf ya sayang. Kakak belum punya uang cukup untuk membelikanmu sepeda. Mungkin baru besok kakak bisa membelikanmu sepeda.”
“Tak apa kok kak kalau aku kakak ga bisa. Yang penting kita bisa makan. Bisa melanjutkan sekolah saja aku sudah senang.”
“Makasih ya manis udah mau ngertiin kakak. Kakak janji akan beliin kamu sepeda baru.”
No comments:
Post a Comment