Tak perlu kutanyakan lagi kapan kau akan pulang kembali ke kota ini. Keyakinanku yang dulu menyala-nyala padam sudah kerena kegundahan menghantuiku sepanjang hari. Aku tak tahu lagi apa penantianku sepanjang dua tahun ini membuahkan hasil yang melegakan nadi tubuhku. Cukup sudah aku menangis menantimu di depan telaga ini memandangi sepasang angsa putih. Memanggil namamu dalam batin yang terluka cukup parah. Aku hanya perempuan biasa yang butuh kepastian. Bukankah cinta itu membuat kita berbunga-bunga. Mengapa aku begitu tersiksa karena cintaku padamu. Kau begitu tega padaku, Mas Dani.
Telingaku cukup panas menghadapi pertanyaan yang setiap hari seolah mencelaku.
“Kapan kamu akan menikah Din? Sampai kapan kamu menunggu dani yang tak jelas kabarnya itu? Ibu malu kalau kamu jadi perawan tua.”
Perkataan itu selalu terngiang di kepalaku beberapa hari ini. Apakah aku harus menuruti kemauan bapak untuk menikah dengan pemuda pilihanya. Pria yang cukup kaya di desa ini. Satu-satunya alasan bapak menyuruhku menikah dengan pria itu agar hutangnya bisa lunas. Bapak tersangkut utang piutang pada pria yang memiliki ratusan hektar tanah dan beberapa toko di desa ini. Ah, aku tak mungkin menikah dengan lelaki yang tak kucintai. Aku masih mencintai mas dani. Hanya dia yang kuharap menjadi pendamping hidupku kelak.
Dua jam sudah aku duduk di tempat ini. Tempat dimana aku bisa menikmati tingkah sepasang angsa putih. Telaga ini sangat jelas mengingatkanku pada mas dani. Dulu kami sering bermesraan disini. Memandangi sepasang angsa putih yang elok rupanya. Andai aku bisa separti nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Aku ingin menumpahkan isi hatiku pada angsa itu. Mungkin mereka merasakan kegalauan yang aku alami. Terkadang mereka mendekati tepi danau, menatapku seolah ingin menghiburku. Sepasang angsa itu kemudian menari menunjukan keceriaanya padaku. Aku pun tersenyum kelihatnya. Aku juga iri padanya. Andai saja aku seperti angsa itu. Tak pernah terpisahkan sampai saat ini. Bebas menari di atas air yang menentramkan jiwa yang nelangsa. Bawa aku menari di atas danau itu wahai angsa putih.
***
Undangan pernikahan sudah tersebar dimana-mana. Dua hari lagi aku akan melangsungkan pernikahanku dengan pria kaya kampung ini. Rasanya aku ingin mati saat ini juga daripada harus menikah denganya. Disaat seperti ini aku sangat membenci mas dani. Mengapa kau pergi dan tak memberi kabar sedikitpun padaku. Kau bilang pergi ke negara orang demi masa depan kita. Tapi apa buktinya? Masa depanku menggantung karenamu. Bukankah kau punya keluarga disini. Mengapa kau tak memberi kabar pula pada mereka. Atau kau memang sengaja menyuruh mereka agar tidak memberitahu padaku tentang keberadaanmu. Begitu mudahnya kau melupakan semua yang kita rajut selama ini.
“Nduk, apa kau benar-benar sudah siap menghadapi pernikahanmu esok?” Tanya ibu sambil membelaiku.
“Dina siap bu.” Jawabku setengah terisak.
“Siap tak siap kau harus melakukanya. Ini demi kebahagiaanmu.”
“Demi kebahagiaanku? Bukankah ini demi kebahagiaan bapak? Untuk membebaskanya dari jutaan hutang pada pria itu.” Sahutku dengan nada meninggi.
“Jaga ucapanmu din. Semua ini kami lakukan bukan semata-mata untuk melunasi hutang keluarga ini. Semua ini lebih agar kamu bisa hidup enak. Tidak terkatung-katung menunggu lelaki yang tak jelas keberadaanya itu.”
Bibirku kelu, air mataku mengalir deras. Aku tak tahan dengan semua ini. Tanganku spontan mengambil pisau yang ada di dekat ibu. Kemudian mataku berkunang-kunang. Samar kulihat wajah ibu yang memanggil namaku. Aku melihat mas dani jelas dihadapanku.
***
Aku tak menyangka dapat berdua lagi bersama mas dani di depan telaga ini. Melihat sepasang angsa putih bercengkerama. Mas dani tampak begitu pucat mengenakan pakaian berwarna putih. Aku bahagia bisa kembali memandangi wajahnya yang membuat hatiku bergetar. Merasakan genggaman tanganya yang membuat aliran darahku begitu cepat mengalir di raga ini.
“Maafkan aku ya sudah meninggalkanmu begitu lama. Kita tak mungkin bersatu lagi din. Walau aku sangat mencintaimu.”
“Kenapa mas?”
“Aku dan kamu sudah berbeda dunia dunia. Kau masih pantas menikmati indahnya dunia bersama lelaki manapun. Berjanjilah padaku untuk tidak terus memikirkanku. Kuharap kau bahagia dengan lelaki itu. Menikahlah denganya.”
“Din...dina...kamu sudah sadar nak.” Sayup-sayup aku mendengar suara ibu didekatku.
“Aku dimana bu?” Tanyaku dengan suara begitu lemah.
“Kamu di rumah sakit din. Sudah dua hari koma. Untung saja kamu sudah sadar. Ibu sangat khawatir nak.”
“Mas dani.....”
“Tak usah sebut nama dia lagi din. Lelaki itulah yang membuatmu seperti ini.” Ucap ibu sinis padaku.
“Aku baru saja bertemu dia bu.”
“Ah, kamu hanya bermimpi. Dia sudah lenyap dari bumi ini.’
Benarkah tadi mas dani menemuiku. Aku merasakan ada sesuatu dalam genggaman tanganku. Kulihat liontin berbentuk sepasang angsa tersenyum padaku. Mungkinkah mas dani benar sudah berada di surga.
No comments:
Post a Comment