Satu tahun aku menyembunyikan semua ini dari Mas Pras. Aku merasa bersalah karena telah membohongi cinta Mas Pras. Andai kamu tahu apa yang terjadi selama ini. Aku tak yakin apa kamu masih menerimaku sebagai kekasihmu yang akan mendampingimu sampai mati. Aku hanya perempuan biasa yang punya perasaan dan ingin dikasihi secara nyata. Bukan hubungan seperti yang kita jalani selama ini Mas Pras.
Satu minggu lagi pernikahan kita. Aku memutuskan untuk menikah denganmu. Seseorang yang selama ini telah mengisi hatiku sehari-hari namun ragamu tak pernah ada disisiku setiap waktu. Menjalin hubungan Jogja- Jakarta membuatku menderita. Aku haus kasih sayang, belaian seorang pria. Belaian yang selalu kurindukan dari Mas Pras. Namun kau memberikan belaian itu hanya tiga bulan sekali. Jiwa kewanitaanku berontak. Kerindukan membuncah mencapai titik klimaks hingga tumpah ke kawah yang lain.
***
Undangan sudah tersebar, gaun pengantinpun sudah dipersiapkan. Entah mengapa hatiku masih belum siap menikah dengan Mas Pras. Aku tak tahu apa aku masih mencintai Didik yang masih menungguku sampai sekarang. Bahkan berharap pernikahanku tak akan pernah terjadi.
“Hubungan ini harus diakhiri.”
“Karena kamu akan menikah?”
“Pastinya.”
“Kau wanita murahan. Datang ke pelukanku saat kesepian. Kini ketika aku benar-benar mencintaimu kau campakan aku begitu saja.”
“Maafkan aku...”
“Semoga pernikahanmu hancur. Akulah orang pertama yang akan menuggu jandamu.”
Perkataan Didik di pertemuan terakhir kami membuatku mengerti bahwa aku sudah menyakiti dua pria. Bedanya Mas Pras tak pernah tahu bahwa aku telah menyakitinya. Apapun yang terjadi aku harus siap menerimanya. Bukankah aku yang memulai semua ini.
***
“Apa kamu masih menerimaku Mas Pras?”
“Aku tak mungkin menerimamu Sin. Kamu tega menduakan cintaku dengan pria itu. Mengapa kau baru mengatakanya sekarang ?”
“Maaf Mas Pras. Aku kesepian.....”
“Bukankah tiap hari kita komunikasi ?”
“Bagiku itu tak nyata. Adamu disini yang kubutuhkan. Bukan suaramu. Ataupun ketikan smsmu.”
“Kita bercerai saja, menikahlah dengan pria itu.”
“Aku mencintaimu Mas Pras...”
“ Permisi Non, bangun ada yang nyari.”
Suara Mbok Minah dari depan pintu membangunkanku dari tidur. Oh... ternyata aku baru saja mimpi. Untung saja Cuma mimpi. Aku tak ingin mimpi itu terjadi. Kulihat Mas Pras tidur lelap disampingku. Dia pasti kelelahan setelah acara pernikahan kami kemarin. Maafkan aku Mas Pras.
No comments:
Post a Comment