Tuesday, May 17, 2011

Perempuan Yang Ku Cinta

Hubungan ini masih saja terjadi di tengah perbincangan banyak orang yang membuat telingaku merah. Aku yang berprofesi sebagai guru les tak bisa membiarkan semua ini terjadi terus menerus. Apa nanti kata anak didiku bila tahu bahwa aku seorang guru yang menjijikan. Namun cinta ini terjadi begitu saja tanpa paksaan. Mengaliri seluruh nadiku dan telah mengisolasi otak dan hatiku. Salahkah bila kami jatuh cinta? Kata mereka hubungan kami adalah suatu hal yang tak waras. Hubungan kami dinilai laknat karena menyalahi norma. Tapi bagi kami hubungan ini sah-sah saja. Sebuah hubungan yang menumbuhkan kasih sayang yang tak pernah kami rasakan sebelumnya. Kami rela apapun demi mempertahankan hubungan ini.

Tanganku masih saja menggenggam handphone jadulku yang berwarna putih. Aku masih bingung apa yang harus kukatakan pada Lia untuk menolak undanganya malam ini ke tempat biasa. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu Lia untuk menumpahkan kerinduan yang terpendam setelah satu bulan kami berpisah Jogja-Bali. Kerinduan yang membuncah untuk segera besanding dengan Lia sang pujaan hati.

“Sayang, maaf ya aku tak bisa datang malam ini karena ada les tambahan.”

Sms itulah yang kemudian kukirimkan ke nomor Lia. Perasaan bersalah menyelimutiku. Namun aku harus bisa melakukanya. Karena demi reputasiku di depan umum dan di mata keluargaku.

***

“Biarkan mereka berkata sinis pada kita. Toh kita menjalani ini tanpa paksaan. Dan kita mendapatkan kebahagiaan dari hubungan ini.”

“Aku belum siap diasingkan orang sekitar apalagi keluargaku.”

“Ah, kamu memang egois. Aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela meniggalkan keluargaku demi kamu.”

“Semua ini ga wajar beib. Apa kamu mau dicela seumur hidupmu.” Sahutku

“Persetan dengan semua itu. Kita sama-sama cinta ya jalani saja semua apa adanya. Sekarang kamu pilih aku atau mereka.” Bentak Lia

***

“Aku cinta kamu sayang, bahkan sangat mencintaimu.”

Aku merasakan getar yan luar biasa saat Lia membawaku ke dalam pelukanya. Debar hangat menggelora membuatku merasakan apa itu surga dunia. Jangan salahkan kami bila kami memilih menjalani dunia seperti ini. Bukankah cinta itu hak siapa saja yang merasakanya. Mareka tak bisa memfonis kami sebagai manusia gila atau apalah. Apa yang kami rasakan ini nyata. Bukan sekedar mencari sensasi atau trauma pada cinta masa lalu. Menurut kami ini lenih baik daripada harus bergonta-ganti pasangan setiap malam. Tubuh wanita seolah seperti makanan yang siap dimakan kapan saja oleh para pria. Kaum liar yang memperlakukan wanita seenaknya. Tak jarang para wanita senang diperlakukan seprti itu. Bukankah itu lebih menjijikan dari kami? Kami hanya mencintai satu pasangan. Cinta kami cinta sebenarnya.

***

Aku merasa tersudut ketika Ayah dan Ibu mengutuku di depan semua keluarga. Aku dimaki habis-habisan ketika mereka tahu bahwa aku seorang lesbian. Mereka mengataiku seolah aku bukan anak mereka. Walau kemudian Ibu memberi nasehat lembut padaku untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berubah menjadi wanita yang sebenarnya. Tapi untuk apa aku berubah, kalau semua orang sudah tahu bahwa aku mencintai gadis bernama Lia. Di sisi lain aku tak ingin mengecewakan orang tuaku. Aku ingin berubah, melupakan Lia kekasihku. Maafkan aku Ayah, aku tak bisa melakukanya.

Pria bernama Satria yang disodorkan Ayah untuku tak membuatku menjadi wanita normal berdasar versi mereka. Aku tak bisa merasakan getar apapun ketika dekat dengan Satria. Getar yang kurasakan saat aku bersama Lia. Aku tak yakin apa aku bisa bahagia bersama Satria. Bullshit..... Cintaku hanya untuk Lia seorang, begitu juga dia.

***

“Sha, malam ini datang ya, aku sakit.”

Sejak undangannya malam itu aku memang belum sekalipun menemui Lia. Walau rasa kangen bergemuruh di dada. Namu aku menahan perasaan itu. Aku bisa merasakan betapa tersiksanya Lia karena sang kekasih tak kunjung datang untuk mengecup keningnya. Membuat kisah yang sempat tertunda selama satu bulan. Andai kamu tahu bahwa aku sangat merindukanku. Betapa ingin aku memelukmu dan mengucapkan cinta di telingamu. Maafkan aku sayang, aku tak bisa datang malam ini. Begitu juga esok, entah lusa.

No comments: