Tuesday, May 17, 2011

Menanti Saskia Di Stasiun Tugu

Kali ini aku sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Aku ingin menikmati suasana stasiun ini yang mungkin tak bisa kunikmati lima tahun kedepan atau mungkin untuk selamanya. Berat rasanya harus meninggalkan kota ini. Banyak kenangan bersama saskia telah terlukis di beberapa sudut kota. Namun inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Aku tak bisa terus-menerus menjalin hubungan dengan saskia dengan cara sembunyi-sembunyi.

Aku mendadak ingin membawa pergi saskia sejauh mungkin. Menempati kota yang tak mungkin bisa dijamah keluarganya. Aku tak menghiraukan perkataan seorang teman dekatku bahwa cara ini tak bisa menyelesaikan masalah begitu saja. Bagiku inilah cara agar cintaku bersama saskia dapat abadi sampai maut menjemput. Aku lelah menjdi pria kedua dalam hidup saskia dua tahun belakangan ini. Padahal aku sebenarnya pria pertama yang menjalin hubungan dengan wanita itu. Aku mendadak harus tersisih hanya karena perjodohan di jaman modern ini.

Masih teringat di ingatanku ketika saskia menungguku di stasiun ini tiga tahun lalu. Aku terpaksa meninggalkanya selama tiga bulan karena profesiku menuntutku untuk berpindah-pindah lokasi. Saat itu aku tak sabar ingin berjumpa dengan gadis berambut ikal itu. Mataku segera tertuju pada bangku paling pojok ketika turun dari kereta. Aku mendapati gadisku nan ayu mengenakan gaun warna biru berlinangan air mata. Betapa terkejutnya aku kala gadis itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sesunggukan ia memeluku. Tanpa basa-basi dia berkata telah menikah dengan pria lain satu minggu sebelum pertemuan itu.

“Maafkan aku Mas. Aku tak bisa melawan kehendak orang tua. Bagaimanapun aku masih mencintaimu.”

Aku tak bisa berkata apapun ketika saskia mengucapkan kalimat itu. Tak bisa dipungkiri betapa hancurnya hati ini mengetahui dirinya sudah menjadi milik pria lain secara sah. Namun aku tak ingin mengalah karena situasi ini. Aku tetap saja menjalin hubungan dengan saskia. Sebisa mungkin aku mengadakan janji dengan saskia untuk jalan berdua. Bermadu asmara layaknya dia dan suaminya. Sebelumnya aku tak pernah mempermasalahkan jika saskia lebih mengutamakan pria itu ketimbang aku. Sebab aku hanyalah pacar rahasianya. Sedangkan pria itu punya hak lebih atasnya.

“Aku tak bisa menjalani rumah tangga bersama pria yang tidak kucintai.”

“Bukankah kamu sudah menetapkan pilihan untuk menikah dengan pria pilihan orang tuamu itu? “

“Aku mau kamu Mas yang menjadi suamiku.”

“Bagaimana kalau kita menikah saja Dik?”

Keputusan ini menunjukan betapa egoisnya diriku.Aku rela melakukan apa saja demi mendapatkan saskia seutuhnya. Bahkan aku tak peduli bagaimana sakitnya pria itu bila tahu istrinya memilih pergi bersama lelaki lain. Aku harap dia paham apa itu asas mencintai dan dicintai. Begitulah yang aku alami saat ini. Bukankah sesungguhnya akulah satu-satunya pria yang dicintai saskia. Akulah pria yang akan memenangkan hati saskia selamanya. Beginilah diriku, yang begitu menggilai perempuan berutubuh mungil itu.

Samar-samar aku mendengar suara saskia memanggilku. Kucari darimana asalnya suara itu. Menoleh ke kanan dan kiri tak kutemukan sosok perempuan manis itu. Hanya ada keramaian penumpang kereta yang baru saja turun. Tiba-tiba suara dering handphone memecah pikiranku.

“Mas, maafkan aku. Terlalu berat diri ini untuk meninggalkan suamiku. Aku tak ingin mengecewakan dia dan keluargaku. Terlebih aku tak mau nyawa yang ada dalam perutku tak tahu siapa ayah kandungnya. Sebaiknya buang jauh-jeuh kenangan kita.”

Tak pernah kusangka aku akan terluka untuk kedua kalinya. Kepalaku terasa berat menerima kenyataan ini. Aku mencoba membalas sms itu dengan tangan gemetar.

“Sampai kapanpun aku akan menunggumu di stasiun ini hingga kau siap pergi bersamaku.”

No comments: